Mensinergikan Lembaga Zakat Dengan Penanggulangan Kemiskinan

0
161

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik sampai dengan tahun 2013 tingkat kemiskinan Kabupaten Kendal masih tergolong tinggi, yakni 12,68 %. Nilai tersebut berada di atas tingkat kemiskinan nasional (11,47 %). Kondisi kemiskinan ini sangat ironis mengingat secara lokasi maupun potensi Kabupaten Kendal sangat menguntungkan.

Salah satu strategi untuk menurunkan jumlah/persentase penduduk miskin adalah dengan mensinergikan lembaga zakat yang ada yakni Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) diberdayakan menjadi sumber dana  penanggulangan kemiskinan. Strategi ini dipandang tepat karena beberapa alasan. Pertama, jumlah penduduk muslim sangat tinggi sehingga potensi dana zakat juga tinggi. Kedua, BAZDA merupakan badan amil zakat bentukan pemerintah sehingga memiliki legalitas baik secara hukum Islam maupun hukum negara. Keempat, pendistribusian zakat saat ini masih simpang siur, sehingga butuh lembaga pendistribusi yang adil. Kelima, sebenarnya banyak yang mau membayar zakat, tapi belum menemukan lembaga yang dapat dipercaya baik karena legalitas lembaga (aspek hukum negara dan hukum agama), pelaksana, manajemen, maupun akuntabilitasnya.

Keenam, Kabupaten Kendal sudah mempunyai Perda Penanggulangan Kemiskinan (Perda Nomor 4 Tahun 2011), maupun Peraturan Bupatinya (Perbup Nomor 14 Tahun 2012). Dalam Perda sudah disebutkan tentang Kewajiban Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan Pengusaha dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Begitu juga Perbup sudah mengatur tentang kriteria warga miskin, tata cara dan persyaratan pelaksanaan program bantuan pangan dan sandang / kesehatan / pendidikan / perumahan / perlindungan rasa aman / keterampilan / modal usaha.

Kelembagaan BAZDA di Kabupaten Kendal sudah lama ada. Modal ini sudah sangat menguntungkan, tinggal merevitalisasi fungsi dan perannya disinkronkan dengan aturan yang terkait.  Beberapa usulan berikut ini semoga dapat dijadikan referensi upaya mensinergikan BAZDA dalam Penanggulangan Kemiskinan.

Pertama, memperkuat kelembagaan BAZDA disesuaikan dengan UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dan mengkaji kembali struktur kepengurusan agar lebih lincah bergerak.

 Kedua, membentuk Sekretariat BAZDA yang selalu “ready and standby” menerima zakat baik langsung maupun transfer. Mungkin perlu dilakukan seleksi terbuka untuk mendapatkan petugas yang berkemampuan dan berpengalaman. Gaji/honornya diambilkan dari bagian amil zakat atau dianggarkan dalam Kegiatan Penunjang BAZDA. Meski Pemkab sedikit mengeluarkan dana, namun nilai kemanfaatan yang akan diperoleh mempunyai multiplier effect yang jauh lebih besar.

Ketiga, regulasi BAZDA yang hanya dengan SK Bupati perlu diperkuat dengan Perda Zakat. yang mengatur kelembagaan/sistem organisasi, tata kerja/manajemen, akuntabilitas keuangan, maupun sistem pendistribusiannya.

Keempat, menerapkan sistem manajemen yang tranparan dan on line melalui website resmi Pemkab kendal (www.kendalkab.go.id) dan membuat beberapa akun seperti facebook atau twitter sebagai media komunikasi dan sosialisasi. Dengan dimunculkannya laporan nama pemberi zakat, jumlah zakat, waktu diterimanya zakat, dan kepada siapa zakat didistribusikan serta dalam bentuk apa (konsumtif atau produktif) maka akan dapat menumbuhkan kepercayaan publik.

Agar masyarakat benar-benar  merasa memiliki BAZDA maka perlu dilakukan pemetaan kepada siapa-siapa yang menjadi Asnaf Tsamaniyah ( QS At-Taubah : 60) dan persentase bagiannya yang diatur dengan Peraturan Bupati. Misalnya para kyai/guru madrasah dapat dikategorikan kedalam penerima kelompok “fisabilillah”. Karena jasa mereka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa maka langkah mereka juga dapat dikategorikan sebagai upaya untuk mengurangi kemiskinan melalui jalur pendidikan.

Kelima, melakukan sosialisasi baik langsung ke instansi – instansi pemerintah maupun swasta ataupun melalui media massa baik cetak maupun elektronik. Masih banyak muslim yang ragu terhadap hikmah dibalik perintah zakat dan masih banyak pula yang belum menemukan lembaga zakat yang dipercayainya. Dengan  sosialisasi yang intensif akan dapat menambah jumlah orang yang berzakat maupun jumlah dananya.

BAGIKAN