Menggagas Musium Kendal Di Kaliwungu

0
479

Kebesaran nama “Kendal” sudah dikenal sejak era Kerajaan Demak, Mataram Islam, maupun saat penjajahan kolonial Belanda. Tokoh – tokoh seperti Tumenggung Bahurekso, Pangeran Djuminah, Bathoro Katong atau Sunan Katong, Pakuwojo, dan lain – lain hingga kini tetap dikenal baik secara sejarah, babad,  maupun mitos. Kebesaran nama Tumenggung Bahurekso sebagai salah satu Adipati Pesisir Utara Pulau Jawa yang menjadi panglima perang Kerajaan Mataram di era Sultan Agung Hanyakrokusumo telah tercatat dengan tinta emas sejarah. Kisah kepahlawanannya dalam penyerangan Belanda di Batavia yang tidak hanya mampu menggerakkan secara regional (Mataram – Jawa) namun juga menggerakkan secara nasional terbukti dengan dukungan tokoh – tokoh Sunda seperti Adipati Ukur  yang namanya kini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Bandung.

Sayangnya kemasyhuran sejarah Kendal “tempoe doeloe” masih berserakan di beberapa catatan sejarah termasuk di Museum Leiden Belanda. Sayangnya belum ada inisiatif warga Kabupaten Kendal untuk membuat Musium Kendal. Terinspirasi dari beberapa daerah yang memiliki musium untuk menjaga sejarahnya maka tak ada salahnya jika mulai digagas pendirian Musium Kendal. Musium Kendal nantinya bukan hanya menjadi tempat penyimpanan benda – benda bersejarah Kabupaten Kendal saja,namun diharapkan juga dapat dijadikan sebagai wahana belajar siswa – siswi mengenai sejarah Kabupaten Kendal dan segala sesuatu yang merupakan khazanah budaya yang menjadi keunikan Kabupaten Kendal.  Dengan adanya Musium Kendal maka akan dapat menjadikan Kaliwungu sebagai salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya.

Yang menjadi pertanyaan utama adalah akan dibangun dimanakah Musium Kendal ? Menurut pandangan Penulis, alangkah lebih tepat Musium Kendal dibangun di Kaliwungu yang sekarang hanya menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Kendal. Mengapa bukan di Kota Kendal atau lainnya? Ada beberapa alasan yang mendasari gagasan pendirian Musium Kendal di Kaliwungu.

Alasan Pertama, berdasarkan sejarah pusat pemerintahan Kabupaten Kendal masa lalu ada di Kaliwungu. Terlepas dari adanya pro kontra Kadipaten Kaliwungu dan Kadipaten Kendal, Kaliwungu merupakan cikal bakal adanya pemerintahan di Kendal. Bukti yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya satu kesatuan antara Alun – Alun, Masjid Agung, dan Pendopo. Alun – Alun Kaliwungu dan Masjid Agung Kaliwungu hingga kini masih berfungsi dengan baik. Dimana letak Pendopo Kadipaten saat itu apakah ada di Balai Desa Kutoharjo yang sebelumnya berupa Pendopo Kawedanan Kaliwungu ataukah di tempat lain masih diperlukan penelusuran sejarah. Adanya peninggalan salah satu meriam di Kampung Pungkuran dapat dijadikan salah satu bukti bahwa pusat pemerintahan saat itu ada di selatan Alun – Alun Kaliwungu karena kata “pungkuran”dapat diartikan kampung yang berada di belakang pusat pemerintahan.

Alasan Kedua, Tradisi dan kebudayaan asli masih terpelihara sampai kini seperti adanya tradisi Syawalan setiap Bulan Syawal,  Tradisi Wewehan, dan lain – lain. Tradisi Syawalan yang berlokasi antara Masjid Agung Kaliwungu sampai Komplek Pemakaman Kuntul Ngalayang mampu menjadi magnet pemersatu bukan saja masyarakat di sekitar Kaliwungu namun juga banyak dikunjungi oleh umat Islam dari luar Kabupaten Kendal. Kedua warisan tradisi ini memiliki nilai adiluhung, yakni adanya penghormatan kepada guru dan orang tua yang telah meninggal serta adanya ajaran saling memberi ke sekitar kita.

Alasan Ketiga, Kaliwungu dikenal sebagai pusat produksi kuliner. Salah satu produk kuliner tersebut adalah berbagai aneka keripik dan kerupuk yang pemasarannya telah meluas. Begitu dengar keripik bayam atau kerupuk tayamum atau kerupuk usek maka akan langsung ingat dengan Kaliwungu. Dengan adanya produksi kuliner yang dapat dijadikan sebagai oleh – oleh khas maka akan sangat mendukung Kaliwungu sebagai lokasi wisata sejarah dan budaya.

Alasan Keempat, Kaliwungu telah melahirkan banyak budayawan dan seniman. Grup – grup samroh, gambus, ataupun qasidah yang telah melegenda bukan hanya di Kabupaten Kendal, koleksi lagunya layak untuk disimpan dalam Musium Kendal. Bahkan ada lagu qasidah khusus yang berjudul Kota Santri (Kaliwungu). Di Kaliwungu pula telah dilahirkan Musik Drum Blek yang tetap bertahan hingga kini, yaitu paduan musik sejenis drumband hanya saja salah satu alat musiknya menggunakan blek (sejenis kaleng). Bahkan prestasi seniman kartun Kaliwungu atau yang lebih dikenal dengan nama KOKKANG mampu menembus manca negara sehingga sangat sayang jika karya – karya monumental tersebut tidak diabadikan dalam Musium Kendal.

Alasan Kelima, Desa Kutoharjo Kaliwungu telah mulai bergerak dengan konsep pembangunan desa wisata yang dikenal dengan “WALIKU” (Wisata Alam, Religi, dan Kuliner). Dibawah bimbingan para fasilitator dari PNPM Mandiri Perkotaan melalui program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas PLPBK) saat ini sudah dibangun kawasan berupa los – los pedagang, gardu pandang, dan rumah singgah sebelum berziarah ke makam para ulama di Astana Kuntul Ngalayang. Di kawasan ini dapat ditanam pohon Kendal yang menjadi asal usul Kendal. Selain itu dapat dibangun Musium Kendal sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri. Jika dana pembangunan belum memungkinkan, untuk sementara dapat ditempatkan di rumah singgah yang merupakan rumah adat khas Kaliwungu. Sebagai permulaan tak ada salahnya jika ditampilkan koleksi buku – buku tentang Kendal yang sudah dimiliki oleh beberapa instansi seperti Babad Kendal, Pesona Kendal, dan lain – lain.

Untuk lebih mematangkan rencana pembangunan Musium Kendal di Kaliwungu perlu dibentuk Tim yang terdiri dari beberapa unsur terkait dan masyarakat Kaliwungu sendiri. Rencana design, tahapan pembangunan, maupun sumber dana dapat dirumuskan sejak awal. Syukur Musium Kendal dapat diresmikan pada saat Peringatan Hari Jadi Kendal tahun mendatang.

BAGIKAN