Tahun 2017, Semua Puskesmas harus siap Layani Persalinan

0
5925

Mulai tahun 2017 mendatang, proses persalinan atau ibu melahirkan harus dilakukan di puskesmas atau klinik. Hal ini dikatakan Kabid Pelayanan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kab Kendal, dr Saechu kemarin. “Sebenarnya sudah mulai dilaksanakan tahun 2016 ini, namun masih diberi toleransi untuk persiapan, tapi tahun 2017 harus sudah dilakukan,”katanya.

Dokter Saechu mengatakan, ketentuan ini sesuai Surat Edaran dari Keenterian Kesehatan, sebagai upaya untuk menekan angka kematian ibu melahirkan dan kematian bayi. Pasalnya, dalam persalinan ini menyangkut dua nyawa, yaitu si ibu yang melahirkan dan bayi, sehingga penangannya harus dilakukan oleh tim. “Karena yang harus ditolong itu dua nyawa, maka harus dilakukan oleh tim, supaya semuanya bisa ditangani dengan baik,”jelasnya.
Dikatakan, klinik yang melayani persalinan harus memenuhi persyaratan, yaitu ada dokternya, bidan minimal dua orang, perawat dan harus memiliki ambulan, yang sewaktu-waktu harus dirujuk ke rumah sakit, maka ambulan sudah siap tersedia. Puskesmas dan klinik hanya melayani persalinan normal, sedangkan persalinan dengan operasi cesar, harus dilakukan di rumah sakit. Untuk rumah bidan dan rumah bersalin, tidak boleh lagi untuk persalinan. Bagi rumah bersalin, harus berubah izin prakteknya menjadi klinik yang fasilitasnya sesuai standar yang ditentukan. Sedangkan bidan desa, tugasnya memantau ibu hamil sampai melahirkan, yaitu jika ibu akan melahirkan, maka bidan desa harus mengantarka ibu yang akan melahirkan ke puskesmas. “Jadi, bidan tidak boleh menangani persalinan sendiri, tapi tetap masuk dalam tim yang menangani persalinan,”ujarnya.
Dokter Saechu menegaskan, tidak hanya puskesmas rawat inap yang menangani persalinan, tapi semua puskesmas harus mampu melayani persalinan, namanua puskesmas mampu bersalin. Tiap puskesmas minimal harus memiliki dua ambulan, yaitu ambulan untuk operasional dam ambulan untuk antar jemput pasien.
Bagi ibu hamil yang terlihat ada tanda-tanda akan melahirkan, dr Saechu mengatakan, agar segera memberitahukan atau menelpon ke bidan desa, kemudian bidan itulah yang akan menghubungi pihak puskesmas untuk menjemput ibu yang akan melahirkan agar segera dibawa ke puskesmas. Selain itu, setelah melahirkan, disarankan untuk tidak pulang ke rumah terlebih dahulu, tapi tinggal di rumah singgah selama lima hari. Adanya rumah singgah ini, untuk mencegah infeksi bagi ibu paska melahirkan. Pasalnya, dari kasus kematian ibu melahirkan, sebagian besar meninggal setelah melahirkan. Untuk biaya ambulan dan rumah singgah akan ditanggung oleh jampersal. Rumah singgah disediakan bagi pasien yang tempat tinggalnya jauh dari puskesmas, maksimal 10 menit jalan kaki menuju ke puskesmas. “Kebuthan makan dan minum selama di rumah singgah akan ditanggung oleh jampersal untuk dua orang,”jelasnya.
Terpisah, Kader Posyandu di Desa Bulugede Kec Patebon, Sri Temu mengatakan, pihak Posyandu di desanya telah menunjuk warga yang memiliki mobil untuk siap mengantar ibu hamil yang akan melahirkan. Jika ada ibu hamil, maka jauh-jauh hari sudah memesan kepada warga pemiliki mobil untuk siap mengantar ke puskesmas. Hal ini dilakukan supaya ibu yang akan melahirkan bisa cepat dibawa ke puskesmas. “Kesepakatan ini hanya sebagai bentuk tolong-menolong sesama warga,”katanya.
,