Baznas Pusat Gulirkan Program Desa Ternak di Desa Bringinsari Sukorejo

0
1099

Baznas Pusat menggulirkan program Desa Ternak di Desa Bringinsari Sukorejo Kendal. Program yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan ini merupakan bagian dari program Zakat Development Program atau dikenal dengan CZD. Program ZCD merupakan pengembangan komunitas dalam pengentasan kemiskinan secara komprehensif dengan mengintegrasikan aspek ekonomi dan aspek sosial (pendidikan, kesehatan, agama, lingkungan, dan aspek sosial lainnya) dan advokasi yang pendanaan utamanya bersumber dari zakat, infak, dan sedekah sehingga terwujud masyarakat sejahtera dan mandiri. Program ZCD adalah program pengentasan kemiskinan secara integral.

Arif Fajar selaku pengusul program mengatakan, untuk ZCD di desa Bringinsari telah digelontorkan dana Rp 500 juta yang sudah cair Januari 2017 kemarin. Dana ini diperuntukkan bagi mustahik yang tergabung dalam kelompok tani ternak Alif. Dana ini akan digunakan untuk pemberdayaan ekonomi berupa desa ternak. Hal ini disebabkan karena masyarakat desa tersebut sudah sangat familiar dengan ternak domba. Konsep pengembangan desa ternak melalui pertanian terpadu, yang nantinya akan ada integrasi pengelolaan antara peternakan, perikanan dan hasil olahan pertanian. Kotoraan ternak dan kencing bisa dijadikan pupuk pertanian, limbah pertanian bisa dijadikan pakan ternak dan pakan ikan.  “Diharapkan dengan pemberdayaan ekonomi bisa meningkatkan kesejahteraan peternak sehingga pemberdayaan aspek sosial lainnya akan ikut terangkat,”kata Arif, Kamis (23/3/2017).

Pemilihan Desa Bringinsari sebagai desa binaan ZCD karena tingginya angka kemiskinan didesa tersebut. Padahal potensi ekonomi di desa tersebut sangat tinggi. Berdasarkan data Potret Wilayah Kecamatan Sukorejo tahun 2015, jumlah KK pra sejahter atau fair miskin sebanyak 78%. Sedangkan keluarga sejahtera II sebanyak 14 %.  Jadi total penduduk fakir dan atau fakir miskin mencapai 92 %. Padahal potensi di desa tersebut merupakan populasi domba terbesar se Kkecamatan Sukorejo, selain singkong dan jagung terbesar dan potensi alam lainnya yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harusnya tingginya nilai potensi ekonomi dibarengi dengan tingginya kesejahteraan masyarakatnya. Berdasarkan social mapping yang telah dilakukan tim Baznas ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Diantaranya rendahnya pengetahuan dan manajemen bisnis masyarakat, akses modal yang terbatas,  dan akses pemasaran yang terbatas. “Kalau melihat data diatas, ada anomali antara potensi ekonomi dengan tingkat kemiskinan disana,” tutur Arif.

Untuk mengembangkan program tersebut, dari Baznas dibentuk tim pendampingan. Tim ini bertugas untuk memastikan dana tersebut bisa berkembang dan sesuai peruntukkanya. Ada 5 aspek pendampingan yang akan dilakukan, yaitu aspek pendampingan teknis dan manajemen pertanian/peternakan, pendampingan kelembagaan, pendampingan usaha kelompok, pendampingan keagamaan dan pendampingan konselor keluarga. “Diharapkan dengan pendampingan ini akan lebih bisa mengarahkan kelompok baik secara ekonomi, sosial dan pembinaan keluarga,”ujarnya.

Sementara itu, Bukhori selaku mantan Kepala Desa Bringinsari dan juga ketua Kelompok Alif, menyambut antusias program tersebut. Selama ini masyarakat Bringinsari hanya mencari rumput saja ketika memelihara kambing. Sekarang dengan model pendampingan yang dilakukan Baznas, masyarakat sudah sedikit banyak tahu tentang manajemen ternak. “Apalagi setiap dua pekan sekali peternak harus ikut pengajian, maka makin tambah ilmunya, dunia dan akhirat,”imbuh Bukhori.

BAGIKAN