Kader PKK Digerakkan untuk Sosialisasi Stop Buang Air Besar Sembarangan

Sosialisasi STBM bagi kader PKK Kab Kendal 2017

0
1163

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Kab Kendal bersama Tim Penggerak PKK Kab Kendal mengadakan sosialisasi tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Menghadirkan narasumber Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kab Kendal, Sri Handoyo. Kegiatan yang diikuti perwakilan Tim Penggerak PKK bersama desa binaan ini digelar di Pendopo Kabupaten Rabu 19 April 2017.

Salah satu yang dibahas adalah tentang perilaku buang air besar sembarangan. Pasalnya di Kab Kendal masih banyak warga yang masih buang air besar sembarangan. Sesuai data, dari sekitar 250 ribu KK, ada sekitar 54 ribu KK yang belum memiliki jamban. Bupati Kendal dr Mirna Annisa menargetkan agar tahun 2017 ini Kendal Bebas Buang Air Besar Sembarangan. Sri Handoyo mengatakan, masyarakat tidak boleh buang air sembarangan, karena efeknya bisa menjadi sumber barbagai penyakit. Untuk itu harus digerakkan Stop Buang Air Besar Sembarangan. “Stop buang air besar sembarangan ini sebenarnya untuk menciptakan supaya masyarakat hidup  sehat,”katanya.

Kepala Dispermasdes Kendal Ir Subaedi mengatakan. Saat ini sudah dibentuk Tim untuk mewujudkan Kendal Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BBABS). Upaya yang dilakukan, selain penyuluhan penyadaran perilaku buang air besar sembarangan, juga mengupayaan pengadaan jamban. Dikatakan, seharusnya tiap rumah memiliki jamban, namun jika dalam suatu tempat belum memungkinkan, maka bisa membuat jamban umum. “Untuk program jambanisasi yang dilakukan yaitu memberikan bantuan pembuatan jamban bagi warga tidak mampu dan program lainnya seperti pemberian kredit untuk pembuatan jamban”,ujarnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kab Kendal, Erna Ibnu Darmawan berharap, peran dari kader PKK di desa-desa sangat dibutuhkan untuk ikut memberikan penyadaran kepada masyarakat agar tidak buang air besar sembarangan. “Orang buang air sembarangan itu kadang bukan karena tidak punya jamban atau tidak mampu membuat jamban, tapi karena perilaku yang dianggap biasa. Makanya perlu dilakukan penyadaran,”katanya