Kekerasan terhadap Anak di Kendal masih Tinggi

Sosialisasi Penanganan Kekerasan di Kab Kendal

0
938
Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan menduduki ranking tertinggi dalam kasus kekerasan. Seperti yang terjadi di Kab Kendal pada tahun 2017, dari 82 kasus kekerasan, yang terjadi pada perempuan sebanyak 74 kasus dan laki-laki 8 kasus. Dari kasus tersebut, untuk anak-anak terjadi 50 kasus dan perempuan 32 kasus. Jenis kasus kekerasan yang terjadi yaitu KDRT 16 kasus, pemerkosaan 27 kasus, kekerasan fisik 6 kasus, pelecehan sesksual 19 kasus, traficking 1 kasus dan pengabaian 13 kasus. Sedangkan di tahun 2018 bulan Januari dan februari sebanyak 7 kasus kekerasan. Hal ini disampaikan Sekda Kendal M Toha saat  Sosialisasi Penanganan Kekerasan Kab Kendal Selasa 6 Maret 2018 yang diikuti kepala SMA/ SMK/ MA se Kab Kendal. “Kami berharap dengan adanya sosialisasi ini diharapkan peran aktif dari kalangan pendidikan dan organisasi massa. Peran serta dari seluruh masyarakat sangat diharapkan agar mengakhiri kekerasan, akhiri perdagangan manusia, akhiri kesenjangan ekonomi,”harapnya..

Pemkab Kendal pada tahun 2010 telah membentuk PPT PKPA Larasati atau Pusat Pelayanan Terpadu Penanganan Kekerasan Perempuan Berbasis Gender dan Anak. Sekda Toha mengatakan, kasus kekerasan di Kab Kendal pada tahun 2017 mengalami penurunan. Namun ada peningkatan kasus perkelaian dan kasus kekerasan seksual atau pemerkosaan yang dialami oleh anak remaja yang berakibat mengalami kehamilan dan akhirnya putus sekolah. “Perda Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender dan Anak,”tambahnya.
Sosialisasi yang diadakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) menghadirkan narasumber Konsultan Perlindungan Anak dari Unicef, Derry Fahrizal Ulum yang menyampaikan materi tentang Mencegah Kekerasan di Institusi Pendidikan. Nara sumber lain yaitu Edi Hartono dari Komisi Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender & Anak (KPK2BGA) Jateng.
Derri dari Unicef memberikan materi tentang  Mencegah Kekerasan di Institusi Pendidikan karena masih banyak kasus kekerasan yang terjadi di sekolah, seperti bullying atau mengejek sesama teman. Dikatakan, bahwa bullying merupakan bentuk kekerasan, bahkan berdasarkan data dari Kementerian Sosial tahun 2015 sebanyak 40% bunuh diri anak di Indonesia terjadi karena bullying. “Kami hanya membuat data berdasarkan penelitian, sedangkan penanganan tindak kekerasan terhadap anak, tentu pihak sekolah sudah lebih memngetahui,”katanya.