Pelajar Kabupaten Kendal Deklarasi Budaya Damai

Deklarasi Budaya Damai Pelajar Kab Kendal

0
25

Sekitar 2.500 pelajar SMA, SMK, MA dan SMP di Kabupaten Kendal mendeklarasikan Budaya Damai di Sekolah dan Madrasah pada Rabu (16/5/2018) di Alun-alun Kendal. Ada 5 point dalam deklarasi yang dibacakan, yaitu sepakat menolak segala bentuk Intoleransi dan kapitalismen, menolak segala jenis narkoba serta obat-obatan terlarang, menolak perilaku bullying, menolak segala bentuk kekerasan dan sepakat untuk mewujudkan budaya damai.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Basyar Rahman menjelaskan kegiatan ini merupakan ikhtiar seluruh elemen pendidikan yang berada di Kabupaten Kendal dalam rangka mendamaikan sekolah, madrasah dan masyarakat untuk menerapkan anti tawuran, anti bullying, anti kekerasan, termasuk anti teroris agar terwujud kedamaian di lingkungan sekolah. “Dengan deklarasi Budaya Damai ini harapannya tidak ada lagi perkelahaian pelajar, tidak ada bullying sehingga kondisi sekolah damai dan kondusif. Selain itu menyikapi adanya aksi teroris, maka pihak sekolah harus memberikan pemahaman supaya tidak terbujuk rayu ajakan radikalisme,”katanya.

Sementara itu, menyikapi adanya aksi  teroris, Wakil Bupati Kendal Masrur Masykur berpesan kepada para guru untuk meningkatkan kewaspadaan dan memberi perhatian lebih kepada anak didik supaya tidak mudah terpengaruh ke ajaran yang sesat. “Kami berpesan kepada guru-guru di sekolah harus memberikan pendidikan yang benar dan mengawasi supaya  tidak terjebak dengan radikal,”ujarnya

Sementara itu Bupati Kendal dr Mirna Annisa dalam sambutan tertulisnya mengatakan, menyambut baik adanya Deklarasi Budaya Damai. Bupati Kendal berpesan kepada pelajar untuk menjaga persaudaraan, gotong royong dan meningkatkan prestasi. Selain itu agar menjauhi narkoba, pergaulan bebas dan mewaspadai bibit radikalisme.

Aksi deklarasi ditutup dengan melakukan penandatanganan di kain putih sepanjang 30 meter  yang bertujuan menolak tindak kekerasan dan bullying di sekolah dan mengecam aksi terorisme sempat terjadi diberbagai daerah di Indonesia.  Penandatanganan ini dimulai oleh anggota Forkompimda, para kepala sekolah dan guru, kemudian diikuti oleh seluruh pelajar peserta apel upacara.