Lesbumi Kendal Berencana Terbitkan Kumpulan Esai tentang Kenangan Ramadan

Diskusi bersama Lesbumi Kendal tentang Ramadan di Kampung Halaman

0
377
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kendal berencana menerbitkan sebuah buku yang berisi kumpulan esai tentang kenangan Ramadan masa lampau. Hal ini terungkap pada gelaran Jurasik (Jumat Sore Asik) di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal Jumat, 18 Mei 2018. Dalam forum diskusi bersama Ketua Lesbumi Kendal Muslichin HN dan Komunitas Jarak Dekat Kendal yang mengangkat tema Ramadan di Kampung Halaman itu merupakan langkah awal menuju penerbitan sebuah buku kumpulan esai dari teman-teman pegiat seni budaya di Kendal.

“Obrolan ini kami ajukan sebagai pemantik, nah selepas ini kami akan menghimpun tulisan-tulisan dari siapa saja, atau khususnya bagi yang hadir malam ini untuk turut serta menulis esai tentang tema Ramadan di Kampung Halaman,” ungkap Muslichin.
Bagi Muslichin, tulisan yang terhimpun tersebut nantinya akan dibukukan, dan rencananya akan diluncurkan pada saat momen Syawalan. “Agar kelak pada saat acara Halal Bihalal misalnya, kami tidak sekadar menyelenggarakan ritual salaman dan bermaaf-maafan semata. Namun ada salam tempel, dengan memberikan buku karya teman-teman pegiat seni budaya Kendal, yang mengisahkan banyak hal perihal tema-tema yang masih sangat begitu dekat dengan kampung halamannya masing-masing,” tutur Musluchin, yang juga merupakan seorang guru Sejarah di SMA N 2 Kendal.
Pada kesempatan obrolan tersebut, dibagikanlah sebuah selebaran tulisan pemantik tentang tema Ramadan di Kampung Halaman. Tulisan tersebut ditulis oleh Muslichin HN dan Setia Naka Andrian. Kedua tulisan tersebut sebagai upaya dari para pegiat Lesbumi Kendal, bahwasanya tulisan-tulisan yang hendak dihimpun dan selanjutnya akan dibukukan tersebut adalah tulisan yang sederhana. Masih sangat begitu dekat dengan segala hal yang kerap dialami oleh para hadirin obrolan yang memadati gelaran Jurasik di gedung BKR yang tua dan kecil itu.
“Ini merupakan upaya sederhana bagi kami untuk, setidaknya memberikan warisan bagi generasi selepas kami. Paling tidak akan didapati narasi-narasi yang meriwayatkan kearifan kampung halaman di Kabupaten Kendal ini. Kami pun tidak muluk-muluk harus menjangkau semua lapiran masyarakat dan semua wilayah di Kendal ini. Kalau bersikeras begitu, maka ya akhirnya program penghimpunan tulisan tentang Ramadan di Kampung Halaman ini tidak akan pernah usai. Maka ya, yang terkumpul, entah berapa pun yang turut menulis, nanti akan tetap kami bukukan. Jadi kelak akan menjadi sebuah pembukukan berseri dari Lesbumi Kendal ini,” ungkap Setia Naka Andrian, penyair dan juga seorang pengajar di Universitas PGRI Semarang.
Menurut Naka, tema tentang kampung halaman tentulah akan bersinggungan dengan bagaimana sebuah kampung di sebuah desa yang begitu lekat dengan keramahan, kesederhanaan, kepedulian, sikap saling berbagi dan memberi, saling menjaga, dan banyak hal lain sebagai laku adiluhung yang dijalankan oleh segenap warga masyarakat. Kampung halaman juga tak dapat lepas dari segala hal terkait kampung yang digunakan oleh para perantau untuk berpulang, untuk kembali, untuk mengenang banyak hal perihal peristiwa kebudayaan, sosial, politik dan apa saja yang tersimpan erat di sebuah kampung. Tentu, dalam obrolan yang berlangsung, juga bergulir kegelisahan dan ketakutan-ketakutan jika saat zaman semakin semakin bergerak, maka segala yang dimiliki kampung halaman kerap kali kian semakin hilang, luntur, dan bahkan tanpa menyisakan bekas apa pun. “Obrolan ini memiliki harapan supaya tradisi ata budaya yang ada tidak hilang begitu saja dengan berjalannya  zaman. Dengan terbitnya buku nanti, paling tidak bisa menjadi peninggalan untuk generasi mendatang supaya mengetahui hal-hal di masa lampau,”harapnya.
Demikian pula Akhmad Sofyan Hadi, direktur artistik Jarak Dekat Kendal menyampaikan kegelisahannya jika tradisi-tradisi kampung pernah dialami bakal hilang begitu saja.


“Barangkali ada yang bakal kita takutkan, kelak suatu saat, ketika kita sudah tiada lagi membedakan mana kampung halaman dan mana kota perantauan. Jika segalanya telah berubah. Tak ada bedanya antara kampung kita berpulang dengan kota perantauan kita. Tiada kenangan dan tiada peristiwa yang dapar menyeret kita untuk berpulang. Tiada bedanya laku manusia, pola hidupnya, bahkan segala aktivitas kesehariannya. Misalnya pada saat Ramadan semacam ini, kita semakin sulit membedakan dengan bulan-bulan lainnya, sama saja dengan bulan-bulan sebelumnya. Atau bahkan sama saja dengan Ramadan yang ada di daerah lain, atau sama saja dengan Ramadan di kota-kota,” ungkap Akhmad Sofyan Hadi.

Obrolan yang diselenggarakan oleh Lesbumi Kendal dan didukung sepenuhnya oleh gelaran mingguan Jurasik ini berlangsung begitu hangat. Bulan puasa tidak menyurutkan masyarakat untuk melewatkan acara ini. Meski tidak seperti biasanya, acara dimulai selepas salat tarawih, dan usai hingga tengah malam, bahkan obrolan yang bergulir selepas acara resmi ditutup telah berlangsung hingga dini hari, hingga hampir menjelang waktu santap sahur.
“Jurasik akan berupaya untuk selalu hadir, atau terselenggara setiap hari Jumat. Apa pun Jumatnya, Jurasik akan selalu berupaya untuk menyuguhkan konten-konten acara yang diisi oleh pegiat atau komunitas yang berbeda-beda. Misalnya malam ini, selain suguhan obrolan dari Lesbumi Kendal, juga ada penampilan tari kontemporer dari Pekerja Seni Tari (PST) Netra, yang begitu kuatnya menampilkan tari-tari kontemporer. Ada upaya pula dari Jurasik, untuk membuat forum ini sebagai ajang bertemu dan berkenalan. Misalnya saja group tari yang pentas kali ini, masih dibilang group tari yang masih berusia belia. Baru saja terbentuk, mereka yang berkesempatan pentas tari malam ini, di antaranya Citra Heidy Ratnasari sma Intan Prisdiyana, Etika Tiara Rizqi Azizah. Selain penampilan tari kontemporer tersebut, didapati pula penampilan olah tubuh dari kelompok pencak silat Pagarnusa serta penampilan musik akustik dari BKR And Friends,” pungkas Tanjung Alim Sucahya, salah seorang pegiat Jurasik.