Majelis Maiyah Tembang Pepadhang Kendal Ngobrol tentang Puasa dan Kebangsaan

Majelis Maiyah Kendal, Tembang Pepadhang tampil di BKR Kendal

0
159
Majelis Maiyah Kendal, Tembang Pepadhang mulai menunjukkan eksistensinya. Belum genap sebulam dilaunching, majelis anak-anak muda ini tampil di BKR Kendal pada Sabtu, 26 Mei 2018 malam lalu. Karena bulan Ramadan, pentas dimulai selepas salat tarawih hingga larut malam. Para jamaah yang hadir tidak hanya yang bersarung dan berpeci, yang bercelana sobek dan berambut gondrong ala seniman pun turut serta merayakan gelaran bulanan dari Tembang Pepadhang. Mereka bersama menikmati sayup-sayup kumandang salawat.

Sajian awal diisi oleh Gamelan Tempa, sebuah group musik bentukan Majelis Maiyah Tembang Pepadhang di Kendal. Lantunan menyejukkan serupa Ya Asyiqal Mustafa, Sholatum Bissalabil Mubien pun dialirkan begitu rupa dengan balutan instrumen modern (gitar), dan seperangkat gamelan. Tidak hanya sholawat dan lagu-lagu religi, seperti Lir-ilir,  tapi lagu-lagu dari band ternama juga ikut dikumandangkan, di antaranya lagu yang dipopulerkan Sujiwo Tejo (Sugih Tanpa Banda), Letto (Sebelum Cahaya), Dewa (Risalah Hati), bahkan lagu-lagu dari band masa kini semacam Banda Neira (Yang Patah Tumbuh) pun digarap dengan aransemen menawan. Selain itu juga disuguhkan penampilan solois (bergitar) dari Kang Muse dengan membeberkan lagu Sandaran Hati (Letto).
Selanjutnya, obrolan pun begitu bergairah saat digulirkan di hadapan jamaah maiyah yang hadir malam itu. Digayengkan oleh pembawa acara, Mas Djauhan dari Komunitas Stand Up Komedi Indo Kendal. Kemudian dalam obrolan dilanjutkan oleh moderator dari Pelataran Sastra Kaliwungu, yakni Mas Bahrul Ulum A. Malik. Ia memandu para pembicara dalam menyibak tema yang telah disiapkan oleh para pegiat Tembang Pepadhang jauh-jauh hari dalam mukadimahnya. NG(E)REMBUKO digulirkan begitu rupa ke hadapan segenap jamaah oleh para pembicara yang didaulat pada malam itu. Mereka adalah Pak Muslichin HN (Ketua Lesbumi Kendal), Gus Basyar (Ponpes Manba’ul Hikmah), Kang Muse (Musisi Solois), Mbah Qiyi Matricide (Musisi Metal), Mas Andhi N. Setiaji (Guru, Teaterawan), dan Mas Djoko Susilo (Seniman Karikatur, Tukang Desain Poster Tembang Pepadhang).
Obrolan awal dimulai oleh Pak Muslichin, yang merupakan salah satu pembicara yang pada malam itu dihadiahi sebagai pembicara paling rajin. Pasalnya, beliaulah satu-satunya pembicara yang mengedarkan tulisan sepanjang enam halaman folio. Dicetak sendiri, digandakan sendiri, dan dibagikan cuma-cuma untuk para jamaah.
Pandangan Pak Muslichin, terkait paparannya bertajuk “Buko dan Kepuasan Spiritual” begitu rupa memberikan pandangan kepada segenap jamaah atas pijakan sosial, filsafat, kebudayaan, dan sejarah. Seorang seniman dan sejarawan yang hampir sebagian waktu kesehariannya dihabiskan untuk mengajar mata pelajaran Sejarah di SMA N 2 Kendal tersebut, menegaskan bahwasanya laku berpuasa dan berbuka menjadi sepasang laku yang saling berkait-paut. Bergerak beriringan dan tidak mungkin dapat terpisahkan.
“Puasa merupakan upaya untuk mengerem, menahan, segala ego dan kegilaan kita atau apa saja yang berkaitan dan berhubungan dengan hawa nafsu. Selanjutnya dalam hal laku berbuka, kita seakan diminta untuk memaknai kebalikan dari laku berpuasa. Dan berupaya untuk lebih merenungi diri, menjatuhkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Bahwa berbuka yang tentu dilakukan saat matahari terbenan, saat dunia semakin gelap, maka merupakan saat terbaik bagi kita untuk tidak begitu jelas melihat sekeliling, tidak begitu mudah tergoda dengan banyak hal di sekitar. Kita fokus kepada Sang Maha Pencipta, kita tujukan segalanya ke hadirat-Nya,” ungkap Muslichin.
Ditambahkan lagi oleh salah seorang pecinta sepeda tua tersebut, bahwasanya berbuka puasa merupakan sebuah jembatan paling indah bagi manusia untuk melihat catatan kebenaran dan keberhasilan yang telah dilaluinya pada siang hari, saat menjalani laku puasa. Apakah segala aktivitas yang dikerjakannya pada siang hari saat berpuasa masih sama dengan hari-hari sebelumnya sebelum memasuki bulan puasa, ataukah ia telah mampu meredam segala gejolak emosi dan mental yang dimilikinya. Bahkan bagi Pak Muslichin, lambat laun berbuka puasa bukan lagi dimaknai secara harafiah sebagai ruang saat manusia boleh membuka (meluapkan) segala emosi, mental, dan karakter yang pada siang hari telah diikat atau dikekang sedemikian rupa. Buka puasa bukan lagi dimaksudkan sebagai ajang balas dendam selepas seharian penuh telah dibatasi dalam berbagai hal.
“Maka tak ayal, jika sebagai manusia dewasa masih terjebak pada persepsi fisik dan masih mudah terjebak pada segala pandangan keduniaan serupa itu, sudah selayaknya kita belum berhasil melalui dan menyelami hakikat berpuasa. Padahal seharusnya, berbuka puasa adalah saat yang tepat bagi kita untuk membuka diri, siapa hakikat kedirian kita di hadapan Allah SWT. Setidaknya, semakin waktu bergerak menjadi kian malam, kian rapat kegelapan menyelimuti hari dan langit, maka saat itulah saat yang paling tenang dan nyaman bagi kita untuk bercakap-cakap kepada Tuhan,” ungkap Muslichin.
Pandangan lain terkait tema yang disuguhkan disampaikan oleh Mas Andhi N. Setiaji, bahwa berpuasa adalah upaya total untuk sepenuhnya menyerahkan diri atas segala yang dimiliki dan segala yang hendak dihaturkan kepada Allah SWT. “Berpuasa adalah upaya memberikan dan mengabdikan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sudah itu, titik. Kita tak perlu menghitung apa yang telah kita lakukan, bagaimana nanti pahalanya. Intinya kita pasrahkan segala itu, selanjutnya berdoa agar segala ibadah kita tersebut diterima, puasa kita diterima Allah,” ungkap Mas Andhi, yang saat ini sedang begitu getol melakoni proses penggarapan teater bersama komunitasnya, Teater Atmosfer Kendal.
Pada kesempatan malam tersebut, tambah gayeng dengan perbincangan yang diguyurkan oleh dua musisi, yakni musisi metal dan musisi solois. Mereka adalah Kang Muse (Solois), dan Mbah Qiyi (Metal). Keduanya memberikan penguatan dan ketegasan tentang bagaimana seharusnya memperlakukan diri kita dalam menjalani ibadah puasa. Lebih-lebih saat nanti selepas melewati bulan Ramadan dan mengarungi hari-hari selanjutnya.
Kang Muse pun menyampaikan, “Kita sesungguhnya telah berpuasa terhadap banyak hal atas kekayaan yang dimiliki Indonesia ini. Namun banyak didapati di antara pemimpin dan para pemangku kekuasaan yang dengan semena-mena merampas segalanya. Seakan tanpa menyisakan buat rakyatnya.”
Mas Djoko Susilo, jurnalis Suara Merdeka, seniman karikatur, yang kerap bertugas mencipta desain poster Tembang Pepadhang, pada malam itu diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan yang mendasari penciptaan posternya yang dibuat khusus untuk majelis maiyah Tembang Pepadhang pada putaran kedua ini. Ia memberikan pengakuan atas segala hal yang berkelebat di sekitaran kesehariannya, kemudian direspon sedemikian rupa menjadi karya rupa. Tentu ia kaitkan dan pertimbangkan pula karyanya atas mukadimah yang dibuat sebelumnya oleh para pegiat.
Pada kesempatan terakhir, Gus Basyar pun hadir di tengah-tengah jamaah. Beliau hadir sekitar pukul 11.00 malam, yang kebetulan pada saat yang sama akan memberikan tausiyah untuk acara nonton bareng Liga Champions di Alun-Alun Kendal. Maka sebelum acara tersebut berlangsung, beliau diajak untuk mampir menyambangi majelis maiyah Tembang Pepadhang. Gus Basyar, pada penghujung acara menyampaikan, bahwasanya laku berpuasa merupakan sebuah kewajiban yang harus dikerjakan kita sebagai seorang muslim, sudah sejak dulu kala. Beliau pun juga mengajak, agar kita senantiasa mengupayakan niat baik keluar dari diri kita, dari hati dan nurani terdalam kita. “Yang penting kita punya niatan baik, cara yang baik. Insya Allah, Gusti Allah akan mengijabahkan yang baik. Yang penting kita salat, yang penting kita sedekah, yang penting kita beramal baik. Kalau urusan pahala, surga dan neraka itu adalah hal prerogatif Tuhan,” tegas Gus Basyar.
Ditegaskan pula, bahwasanya kita semua agar nurut, nderek (ikut) kepada kiai kita, sebab para kiai dan para alim ulama telah berjuang sepenuh jiwa dan raga, turut serta dalam upaya kemerdekaan bangsa dan negara ini. Oleh karena itu, tanggung jawab kita untuk merawat, menjaga, melindungi, serta mempertahankan bangsa dan negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman yang datang dari mana pun. Segalanya sudah harga mati, tidak dapat diganggu gugat lagi. “Mari kita ikuti Cak Nun, kita ikut kiai kita, yang selanjutnya kiai kita ikut kiainya, dan seterusnya. Yang tentunya, dalam segala sesuatu, kita hendaklah selalu berpegang pada kiai-kiai kita yang sudah jelas sanadnya. Kepada merekalah kita semua berpegang, termasuk dalam hal terkait nasionalisme kita,”pungkasnya.