Mujib Rohmat : Semua Rakyat harus Satu Persepsi Jaga Empat Pilar

Mujib Rohmat Gelar Dialog Kebangsaan Semua Rakyat harus Satu Persepsi Jaga Empat Pilar

0
76
SIKAP toleransi dengan saling menghormati dan menghargai harus dijunjung tinggi dalam hidup berbangsa dan bernegara. Hal ini penting, karena Indonesia dibangun dari berbagai keragaman.

 
Demikian dikatakan Anggota MPR RI Mujib Rohmat dalam Dialog Pemuda dan Kebangsaan di Padepokan Wushu dan Pencaksilat Terate Sakti, Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Mujib mengibaratkan Indonesia layakyanya rumah besar. 
 
“Indonesia yang besar ini terdiri dari 34 provinsi yang memiliki ragam budaya, agama, ras, suku, yang berbeda. Tiap provinsi masih terdiri dari banyak kabupaten dan kota,” katanya.
 
Indonesia ini adalah Rumah Kesatuan yang harus dijaga untuk keutuhan NKRI. Caranya tidak lain adalah toleransi. Selain itu komitmen untuk empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. 
 
“Semua rakyat harus satu persepsi yang sama untuk menjaga empat pilar. Sebab Indonesia ini dibangun di atas  keragaman suku, ras, budaya dan agama. Termasuk menghormati dan menjalan konstitusi yang ada,” tutur Anggota DPR RI Komisi X itu. 
 
Salah satunya adalah pemuuda ikut menjaga sistem demokrasi sebagai bagian untuk memilih wakil dan pemimpin daerah hingga Presiden. Sebab sistem ini sudah disepakati bersama sebagai cara untuk memilih pemimpin. 
 
Sistem ini semua warga memiliki hak suara yang sama dalam pemilihan. “Pemilu serentak sudah berjalan dengan aman dan damai, ini harus terus dipertahankan. Jangan sampai sistem yang sudah berjalan ini dirusak atau digerogoti oleh paham-paham yang akan memecah belah bangsa,” tandas Politisi Partai Golkar itu. 
 
Mujib mencontohkan dengan Khilafah atau sistem pemerintahan Islam dengan menunjuk satu orang sebagai pemimpin seumur hidup. Menurutnya hal itu jelas berbeda dengan komitmen bangsa ini dan bisa dikatakan sebagai makar dari bangsa ini.
 
Negara juga tidak boleh ada disparitas yang tinggi. Jika hal itu terjadi maka muncul kecumburuan yang dapat memicu usul sparatis. Makanya tugas pemerintah saat ini adalah mengembangkan daerah dan kesejahteraan secara merata.
 
Salah satunya dengan kebijakantan otonomi daerah. Dimana daerah bisa mengembangkan dan membangun daerahnya sesuai dengan potensi daerahnya masing-masing. “Peran pemuda saat ini adalah dengan belajar dengan sungguh-sungguh menciptakan prestasi dalam olahraga, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi,” tambahnya.
 
Pemuda jangan sampai larut dengan perkembangan luar negeri, tapi justru melupakan dengan pengembangan diri dan bangsanya. “Jadi mempersiapkan mental dan karakter dibarengi dengan pengembangan kemampuan dan keahlian,” pungkasnya. (Budi JP)