Perumahan Curugsewu Asri jadi Pilot Projek Pembangunan Rumah untuk MBR

Peletakan batu pertama pembangunan rumah Curug Sewu Asri

0
821
Kabupaten Kendal menjadi pilot projek nasional pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Peletakan batu pertama di lokasi perumahan Curug Sewu Asri Patean Kamis 27 September 2018 oleh  Dirut BNI, Bupati Kendal, Rektor Undip dan Kementerian Perumahan Rakyat. Kabupaten Kendal dipilih sebagai pilot projek karena merupakan daerah yang memiliki deadlock kebutuhan perumahan cukup tinggi di Jawa Tengah.

Dirut BTN, Maryono mengatakan, program ini disebut juga KPR ABCG, karena kerja sama dari akademisi, bank, comunity dan government atau pemerintah. Pemerintah diwakili oleh Ditjen Penyediaan Perumahan, dan Pemerintah Kabupaten Kendal serta Badan Pertanahan Nasional. Dalam skema ABCG, Ditjen Penyediaan Perumahan berperan menyiapkan strategi penyediaan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), sedangkan akademisi diwakili oleh Undip dan komunitas setempat yang ditunjuk Pemkab Kendal yaitu Kelompok Swadaya Masyarakat Curugsewu Asri. “Kelompok Swadaya Masyarakat tersebut yang akan mengorganisasi komunitas, memfasilitasi pembagian kavling, sertifikasi lahan dan merancang serta melaksanakan pembangunan rumah. Sementara Undip berperan melakukan sosialisasi, edukasi dan verifikasi MBR yang layak mendapatkan KPR BTN Mikro dengan skema ABCG serta membuat kajian terkait rumah layak yang terjangkau dan penataan lingkungan,”jelasnya.
Maryono mengatakan, program ini merupakan keterpaduan stakeholder dalam penyediaan perumahan dan lingkungan hunian yang layak dan terjangkau. Setidaknya ada sekitar 6 juta MBR yang unbankable di Indonesia yang belum memiliki rumah. Hal ini menjadi tanggung jawab, tidak hanya pemerintah pusat dan daerah saja, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh stakeholder termasuk Bank BTN dengan melibatkan akademisi serta komunitas.
“Untuk menyentuh MBR, Bank BTN melakukan bundling produk KPR BTN Mikro dengan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS sehingga akses pembiayaan untuk memiliki lahan lebih terjangkau, sementara BPN akan membantu pengadaan dan proses sertifikasi lahan,” kata Maryono.
Menurut Maryono, sebagai pilot project, Kendal menjadi kabupaten pertama yang mengaplikasikan KPR BTN Mikro dengan skema ABCG. KPR BTN Mikro dengan skema ABCG dapat diakses oleh konsumen dari kalangan MBR, dan bagi yang belum memiliki tanah maupun rumah. MBR yang dibidik dalam skema ABCG adalah mereka yang hidup di rumah kontrakan, di lingkungan yang tidak layak huni. Sebagian dari mereka berprofesi sebagai pekerja honorer seperti guru tidak tetap, wirausaha, pegawai swasta dan lain-lain.
Adapun syarat-syarat lainnya dari calon debitur dalam pilot project ini adalah mereka yang  berusia minimal 21 tahun, penghasilan rata-rata di bawah Upah Minimum Provinsi atau senilai Rp 2,5 juta  serta belum memiliki rumah dan tanah.  MBR yang sudah terverifikasi oleh Undip nantinya dapat membeli kavling di lahan seluas 1 hektar di desa Curug Sewu, Kecamatan Patehan, Kabupaten Kendal. Lahan seluas 1 hektar tersebut terbagi dalam 63 kavling, dengan luasan masing-masing 84 meter persegi dan didirikan bangunan maksimal seluas 36 meter persegi.
“Dalam simulasi yang kami buat, debitur bisa mendapatkan pinjaman dana sebesar Rp 38 juta dengan skema bundling  KPR BTN Mikro dengan BSPS pada program ABCG ini. Untuk mencairkannya, debitur cukup menyediakan uang muka 5% atau sebesar Rp 1, 9 juta, cicilannya pun relatif ringan yaitu sekitar Rp 571 ribu per bulan selama 10 tahun,” kata Maryono.
Rektor Undip Prof Dr Yos Johan SH MHum, mengatakan, program ini merupakan percontohan yang hebat karena yang pertama kalinya di Indonesia. Program ini akan dilanjutkan terus untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah agar bisa memiliki rumah yang layak huni. “Kredit rumah ini sangat terjangkau yaitu untuk rumah type 36 ini sebesar 38 juta yang diangsur selama 10 tahun,”katanya.
Bupati Kendal Mirna Annisa berharap, program percontohan nasional ini mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Harapan ke depan banyak muncul komunitas perumahan baru. “Targetnya satu desa bisa dibangun satu komunitas yang terdiri dari 100 unit rumah,”ujarnya.