Ali Akar Jerami Luncurkan Kumpulan Puisi

Ali Akar Jerami tampilkan kumpulan puisi

0
59

Para pegiat seni sastra di Kendal mulai unjuk eksistensinya. Selain unjuk dalam kegiatan seni di pementasan, juga membuat karya dalam bentuk buku, baik secara kompilasi maupun seorang diri. Ada yang berupa kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel maupun lainnya.

Salah satunya Ahmad Murtadho yang mencoba menyajikan  karya-karya puisinya dalam  gelaran  Ngaji Sastra di  halaman  kampus STIK Kendal, Sabtu (10/11/2018) malam. Penyair yang lahir dan tinggal di Desa Lanji Kecamatan Patebon ini menampilkan karya puisi yang diberi judul Dongeng Pagi, Pelung Sederhana Jerami, sekumpulan  puisi akar jerami. Untuk membedah kumpulan puisi unggulannya yang dikemas dalam sebuah buku, ia menghadirkan Sawali Tuhusetya, seniman yang sering dihadirkan untuk menyoroti karya sastra di Kendal. Sedangkan dalam buku puisi tipisnya memilih Aris Kalm untuk membuat kata pengantarnya.
Ahmad Murtadho yang lebih dikenal dengan panggilan Ali dan memiliki akun fesbuk Akar Jerami ini menunjukkan karya puisi lama dan baru. Puisi yang ditampilkan beragam, ada yang mengekspresikan suara hatinya maupun menggambarkan apa yang ia lihat.
“Saya menulis puisi ini tidak memiliki tendensi apa-apa, tapi hanya karena ingin menulis. Tidak ada keinginan supaya dikatakan sebagai penyair atau apa,”ujarnya.
Sawali yang mencermati bait-bait bahkan kata per kata dalam puisi tersebut mengatakan, sejumlah puisinya tampaknya dijadikan sebagai medium bagi Akar Jerami untuk mengekspresikan kegelisahan nuraninya yang terusik oleh suara lirih rakyat kecil yang tenggelam di tengah riuhnya gejolak peradaban. Meski demikian, kurangnya sentuhan diksi yang subtil dan sarat metafor ditutup dengan kuatnya muatan isi yang menyentuh, sekaligus menyentakkan nurani kemanusiaan tentang nilai kesejatian hidup.
“Membaca puisi Akar Jerami bagaikan mozaik peradaban yang sarat dengan situasi anomali tentang mitos manusia sebagai homo homini lupus yang memaksa manusia menjadi serigala bagi sesamanya kembali menguat dan menemukan bentuknya pada era digital ini,” katanya.
Sedangkan Aris Kalm mempersilakan untuk menikmati dan memahami bahkan memaknai puisi-puisinya. “Apakah puisi-puisinya dalam kadar yang sama dengan arti frase “akar jerami” atau justru melampaui?” ujarnya.
Acara bedah puisi ini disegarkan dengan musikalisasi puisi dan pembacaan puisi para penonton.