Sanggar Kejeling Gelar Diskusi tentang Kemandirian Komunitas Seni Budaya

Sanggar Kejeling Gelar Diskusi tentang Kemandirian Komunitas Seni Budaya

0
222

Sanggar Kejeling, Desa Sidomulyo Kec. Cepiring Kab. kendal membentuk grup musik keroncong yang diberi nama keroncong Mistri. Musik keroncong ini bersama kelompok gamelan dan penampilan dalang cilik mengisi hiburan pada acara diskusi budaya di Sanggar Kejeling, Jumat (3/5/2019).

Diskusi menghadirkan 3 pemantik diskusi, yaitu Bpk Agus Riyatno sebagai Pengasuh Sanggar Kejeling, Mas Ardian Sugito sebagai Pelaku Seni Sanggar Kejeling, dan Ulinuha selaku pengamat dan sekaligus penasehat Sanggar Kejeling. Diskusi kali ini membicarakan tentang kegelisahan yang dihadapi oleh pelaku seniman terutama seniman yang sejatinya ingin berjuang dan bertahan berkarya namun terkendala oleh ekonomi karena para pelaku seni belum bisa hidup dari sebuah seni. Tujuannya untuk menumbuhkan pemikiran baru dalam menemukan solusi untuk menciptakan ekosistem seni dan budaya dengan jalan kolaborasi.

Dikatakan oleh Agus, pengasuh Sanggar Kejeling, bahwa di Sanggar Kejeling ini belum ada ruang ekonomi yang tujuannya mampu memberi kesejahteraan bagi seniman untuk bertahan dalam memperjuangkan seni dan budaya di Kendal. Ia berharap ada keterlibatan pemangku kebijakan untuk membangun seni dan budaya di Kendal supaya makin berkembang.

Menurut Ardian Suegito yang mewakili teman-teman Sanggar Kejeling, selama ini program pemerintah di bidang kesenian umumnya berbasis acara event seperti penyelenggaraan festival atau lomba, yang sayangnya, seringkali dilaksanakan tanpa bersinergi dengan pelaku seni yang relevan sehingga tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, seniman di kendal harus siap mengurus dan menghidupi dirinya sendiri dari sumber-sumber pendanaan alternative yang lain seperti menjadi karyawan di perusahaan. “Yang terjadi, kadang keterpaksaan itu yang membuat para pelaku seniman lebih memilih berhenti,” katanya.

Menurutnya, para seniman harus mulai cari tahu soal pendanaan-pendanaan untuk melanjutkan ekosistem dalam berkesenian,  di antaranya melalui pendanaan pemerintah, pendanaan swasta, pendanaan Lembaga internasional, Lembaga seni Nirlaba.  Untuk bisa mengases ke sana, maka harus punya relasi dan melobinya secara personal. Selain itu bisa menggali pendanaan dengan cara Crowdfunding atau pendanaan secara ramai-ramai atau patungan.

“Seniman mendapatkan modal bagi terwujudnya suatu produksi, baik komersial maupun nonkomersial atau untuk membiayai operasional suatu kelompok seni. Penyumbang crowd-funding pada dasarnya adalah individu (investor), bersama-sama dengan seniman sebagai kreator dalam mewujudkan sebuah karya. Cara ini banyak berhasil di tempuh para seniman di Jawa Barat dan seniman Jogja dalam membangun ekonomi bagi pelaku seni dalam menciptakan ekosistem seni dan budaya untuk tetap bertahan. Jadi dari cara itu mereka mencoba memodali bersama-sama, dikelola bersama, adn hasilnya dinikmati bersama-sama. Dengan cara crowdfunding akan menjadi jalan bagaimana para seniman bisa menyejahterakan diri dan keluarganya,” jelasnya.

Di Kendal juga sedang membangun ekosistem ekonomi dengan cara crowdfunding degan menerapkan model Co-operative atau Koperasi Dengan menjunjung tinggi konsumsi etis, produksi etis, distribusi etis dan merawat prinsip kekeluargaan gotong royong. Dengan memilih usaha kedai kopi yang di dalamnya terdapat ruang biskop rakyat dan ruang creative Hup yang baru pertama di Indonesia. semogga ini juga menjadi inspirasi untuk para seniman dalam membangun ekosistem berkesenian yang lebih kratif dan berwarna.