Situs Boto Tumpang Diduga Tersebar Satu Kampung

Sosialisasi situs kuno Boto Tumpang dan situs lainnya di Kendal

0
106
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal terus berupaya menggali keberadaan tiga situs kuno di Kabupaten Kendal, yakni situs Boto Tumpang dan situs Tegalsari di Kecamatan Rowosari serta Makam Batu Berkarang di Kecamatan Patebon. Keberadaan situs tersebut akan terus dilakukan penelitian oleh Tim Balai Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Ketua Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Agustijanto Indra Jaya mengatakan, dari ketiga situs tersebut yang kemungkinan besar masih bisa digali hanya situs Boto Tumpang. Pasalnya, dari benda-benda bekas bangunan yang ditemukan masih tampak utuh. “Kalau untuk situs di Tegalsari itu benda-benda bekas bangunannya sudah hancur, sehingga sulit diidentifikasi,” katanya saat giat Sosialisasi di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Kendal, Selasa (5/11/2019).
Agustijanto mengatakan, bahwa penelitian arkeologi situs Boto Tumpang merupakan bagian dari satu penelitian besar tentang awal peradaban di pantai utara Jawa Tengah. Penelitian sudah dilakukan sejak tahun 2010 di sepanjang pantau utara Jawa Tengah, mulai dari Tegal hingga Rembang. Pada tahun 2018 dan 2019 penelitian dipusatkan di Kendal, khususnya situs Boto Tumpang yang hasilnya sangat menarik, karena secara arsitektural, candi di Boto Tumpang ini tidak ada pembandingnya dengan candi-candi di Jateng. “Di Jateng banyak ratusan candi, tapi candi yang di Boto Tumpang ini berbeda dari aspek hasil teksturnya mempunyai motif atau profil yang tidak ada di candi lainnya di Jateng,” katanya.
Dikatakan, bahwa candi Boto Tumpang mempunya kemiripan besar dengan candi Batujaya di Kerawang Jawa Barat. Candi yang ditemukan di Batujaya merupakan candi yang tua diperkirakan dibangun abad 6 atau 7 Masehi. Bangunan candi tersebut diduga pada periode awal persentuhan Hindu dan Budha di Jateng. “Sebelum Mataram Kuno, candi itu sudah ada,” katanya.
Situs Boto Tumpang diduga sebagai komplek percandian, karena ditemukan lebih dari satu, seperti di Batujaya sudah ditemukan 40 candi yang tersebar luas di radius 2 KM. Sehingga masih mungkin ditemukan candi-candi lainnya di sekitarnya. Penggalian yang sudah dilakukan belum sampai pada lapisan budaya di kedalaman 3 meter. Oleh karena itu masih harus dipakukan dua atau tiga kali penelitian untu mengunggkap keberadaan situs Boto Tumpang, baik luas bangunan candi maupun hubungan antar bangunan candi. “Kira-kira luasnya satu kampung, karena di sebelah barat kampung juga ada situs Grumbul, bagian dari Boto Tumpang. Maka jika sudah sudah ditemukan semua, masih layak dipugar,” jelasnya.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, Wahyu Yusuf Ahmadi berharap, keberadaan situs-situs tersebur bisa segera terungkap secara keseluruhan. Oleh karena itu pihaknya meminta dukungan anggaran dari APBN untuk melakukan penggalian lebih lanjut. “Untuk sementara situs tersebut ditutup lagi untuk pengamanan,” katanya.
Wahyu Yusuf mengatakan, jika keberadaan situs terebut sudah terungkap dan sudah dilakukan pemugaran, maka bisa dijadikan tempat wisata, sehingga tidak hanya dikenal oleh masyarakat Kendal, tapi bisa sampai internasional. “Untuk mengungkap situs itu butuh proses lama, namun terus diupayakan,” ujarnya