Java Katana di Sukorejo Banjir Order Pembuatan Pedang Jepang

Java Katana di Sukorejo produksi pedang Jepang

0
763
Bagi yang ingin mengoleksi senjata tradisional Jepang atau biasa disebut Katana, tidak perlu jauh-jauh mendatangkan dari negara Jepang. Pasalnya di  Dusun Sumber Desa Bumiayu Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal ada industri rumahan yang khusus membuat senjata tradisional Jepang, namanya Java Katana.
Ada dua jenis brand yang diproduksi, yaitu brand kelas koleksi yang berupa pedang panjang dan brand kelas pisau dapur yang bentuknya pendek. Sementara ini Java Katana hanya melayani pemesanan untuk dalam negeri.
Luthfi, pemilik Java Katana mengatakan, peluang pasar Katana di Indonesia cukup besar, yang kebanyakan para kolektor dan komunitas di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang. Untuk sementara tidak melayani pemesanan dari luar negeri, karena sudah kewalahan melayani pemesanan dari dalam negeri. “Sebenarnya ada yang pesan dari luar negeri, seperti Malaysia, namun sementara tidak bisa dilayani, karena sudah kewalahan melayani pemesanan dari Indonesia sendiri. Selain itu prosedurnya terlalu ribet untuk pengiriman ke luar negeri,” katanya.
Menurut Luthfi, Java Katana merupakan satu-satunya home industri yang membuat kerajinan pedang Jepang. Di daerah Jawa Barat memang ada yang memproduksi pedang Jepang, namun kualitas tidak seperti produk asli Jepang. “Di daerah lain ada, tapi seperti pedang biasa. Kalau Java Katana yang dibuat kelasnya untuk kolektor,” ujarnya.
Java Katana memiliki 12 pekerja yang per bulan rata-rata bisa membuat 8 sampai 10 bilah pedang panjang. Harga mulai Rp. 4,5 juta sampai Rp. 10 juta tergantung bentuk dan kerumitan motifnya.
Luthfi menceritakan, ia mulai membuka usaha kerajinan katana pada tahun 2013.  Berawal dari hobi mengoleksi pedang Jepang, kemudian belajar secara otodidak dengan melihat langsung pada pembuat. Setelah merasa bisa, kemudian membeli peralatan untuk memproduksi sendiri. Ia juga belajar secara langsung kepada kolektor, sehingga produk yang dibuat sesuai dengan keinginan kolektor. “Saya belajar otodidak selama satu tahun. Terus mencoba sampai berkali-kali, sampai produk yang dibuat sesuai harapan,” katanya.