Abrasi di Objek Wisata Pantai Ngebum Kaliwungu terus Bertambah

Abrasi di Objek Wisata Pantai Ngebum Kaliwungu terus Bertambah

0
124
Abrasi di objek wisata Pantai Ngebom Desa Mororejo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal semakin parah. Akibat abrasi itu dalam beberapa tahun terakhir bibir pantai terendam air laut sekitar 10 meter. Setidaknya ada 4 warung yang hilang, karena lokasinya sudah terendam air laut. Kini masih ada 4 bangunan yang terancam kena abrasi.

Fenomena alam yang merupakan siklus tahunan ini sulit diatasi. Pencegahan dengan melakukan penanaman pohon pun tidak membuahkan hasil, karena pohon-pohon yang sudah tumbuh besar pun bisa roboh akibat terkena ombak air laut. ayang juga berdampak pada sebagian warung atau rumah di pinghir pantai.
Salah satunya rumah Jaman (70) yang sekaligus dijadikan warung sebagai sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk mencegah abrasi agar air laut tidak masuk rumah, Jaman memasang tumpukan batu dan ratusan sak berisi pasir dengan biaya sendiri. Hempasan ombak air laut mulai menerjang rumahnya terjadi 2012 silam. Seribuan sak pasir ditambah 5 truk batu-batuan ditata setinggi 3 meteran di depan rumahnya untuk menghalangi ombak agar tidak memasuki rumahnya.
“Ini ya (biaya) saya sendiri. Bagaimana lagi satu-satunya tempat tinggal dan mata pencaharian keluarga harus dijaga semaksimal mungkin,” terang Jaman, Kamis, (13/2/2020) di lokasi.
Cara seperti itu terus dilakukan, jika tumpukan sak-sak sudah rusak karena ombak air laut. Terakhir pekan lalu, dirinya mengganti sekitar 100 sak pasir dengan yang baru. Hal itu dilakukan agar penahan ombaknya tetap kokoh tak sampai merobohkan rumahnya.
Rumah yang ditempati bersama istrinya itu pun pernah terkena banjir gelombang air laut yang merusak beberapa alat elektronik beberapa tahun lalu. Ia berharap pemerintah daerah ataupun dinas terkait agar melakukan tindakan dalam mencegah abrasi, terlebih menyelamatkan pantai itu sendiri.
“Ada 4 warung yang sudah roboh. Semoga ada pembenahan dari pemerintah agar yang berkunjung juga ramai. Kasian kalau sepi mata pencaharian kami mati terputus. Tetap sabar karen ini pendapatan hidup satu-satunya,” terang Jaman.
Abdullah Faqihudin, Ketua Bumdes Moro Berkah Desa Mororejo, mengatakan adanya fenomena alam berdampak ambarasi tersebut merupakan siklus tahunan. Sebagai antisipasi, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak desa untuk membahas penanggulangan abrasi. Terjadinya abrasi memang tidak terlihat, karena secara perlahan-lahan, bahkan pada masa air laut surut, air laut menjauh dari bibir pantai. Namun hal tersebut harus segera diantispasi agar tidak semakin bertambah dan menghilangkan Pantai Ngebom.
“Memang jangka panjang, kalau tidak ada tindakan sedikit demi sedikit pasti akan terkikis. Sementara kita lakukan pemantauan dan tanam pohon untuk mencegah sementara,” terangnya.
Terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal, Anung Dwikorawan, menjelaskan, cara yang paling efektif untuk mencegah abrasi adalah dengan membuat pemecah ombak, namun memerlukan biaya yang sangat besar. Akan tetapi, adanya batasan kewenangan pengelolaan pantai membuat Pemerintah Kabupaten lebih mengutamakan pencegahan saja daripada penanggulangan. Sesuai regulasi, wewenangnya ada di Provinsi Jawa Tengah, sehingga pemkab tidak berani mengambil tindakan lebih sebelum ada persetujuan.
“Ini wewenang ada di provinsi. Kita sudah usulkan dan kirim pemberitahuan agar ada tindakan lebih lanjut. Sementara yang kita lakukan hanya sebatas pembenahan dan pencegahan saja dengan melakukan penanaman pohon. Kita juga bersama pemerintah kabupaten, DPUPR, Dinas Pariwisata berupaya mencari solusinya agar tidak semakin parah,” ujarnya.