Enam Eks Gafatar Asal Kendal sudah Pulang

0
646

Enam orang dari dua keluarga anggota eks Gafatar asal Kab Kendal yang dipulangkan dari Kalimantan sudah tiba di Kendal Jumat (29/01/2016) malam pukul 20.15 WIB. Satu keluarga merupakan pasagan suami istri bernama Mufid dan Eka Agustina warga Dusun Ngrandu RT 2 RW 3 Desa Sebaran Parakan Kecamatan Pageruyung. Satu keluarga lagi merupakan suami istri, yaitu Paskur dan Juniarti beserta kedua anaknya bernama Elangga Wira Kurnia lahir 2002 dan Anggi Anggelina Kurnia lahir 2005, warga RT 1/2  Desa Korowelangayar Cepiring.

Mereka dijemput dari Asrama Haji Donohudan oleh anggota Muspika setempat. Sebelum diantar ke rumahnya,  terlebih dahulu singgah sebentar di Kantor Kesbangpol Kendal untuk diberi pengarahan. Kapolsek Cepiring  AKP Sulistiyarso mengatakan, sebelumnya telah berkoordinasi dengan pihak keluarga, perangkat desa, tokok masyarakat dan warga setempat. Menurut Kapolsek Cepiring, pihak keluarga dan masyarakat akan menerima dengan baik. “Keluarga dan warga mengatakan, Paskur sewaktu tinggal di desanya adalah orang baik, jadi akan diterima kembali dengann baik.

Sementara itu, Pasintel Kodim Kendal Kapten Sudiatmoko memberikan pengarahan, agar setelah kembali di kampung untuk segera mengurus dokumen kependudukan, seperti KTP, KK dan mengurus kedua anaknya supaya bersekolah kembali. Juga agar hidup bermasyarakat secara normal. Serta meminta untuk tidak pergi ke luar daerah, atau jika akan pergi keluar daerah harus melapor kepada aparat setempat. “Ini inisiatif saya sendiri, demi kebaikan bersama, supaya tidak pergi ke luar daerah,”ujarnya.

Terkait dengan Gafatar, menurut penuturan Paskur, sekeluarga baru satu setengah bulan pindah ke Kalimantan. Di sana bekerja bercocok tanam dengan dibantu istri dan anaknya. Paskur  mengaku senang tinggal di Kalimantan hidup dengan teman-teman anggota Gafatar. Namun Paskur tidak mau bercerita alasan tertarik bergagung dengan Gafatar. “Ya senang aja dengan teman-teman Gafatar,”ucapnya.

Paskur mengaku bergabung dengan Gafatar sejak tahun 2011 ketika tinggal di Batam. Dan sudah mengetahui jika Gafatar sudah dibubarkan, namun tetap hidup bersama dengan teman-teman Gafatar, hingga diajak pindah ke Kalimantan di perkampungann Gafatar. Padahal di Batam sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai tukang las dengan penghasilan yang lumayan. Dengan bekal modal hasil kerja di Batam, Paskur tertarik ajakan teman-temannya pindah ke Kalimanta.

Begitu pula dengan Elangga Wira Kurnia, putra Paskur, yang masih kelas 2 SMP, merasa senang tinggal di Kalimantan, walaupun harus keluar dari sekolah dan ikut membantu orang tua bekerja bercocok tanam. “Senang, di Kalimantan bekerja bercocok tanam,”katanya. (Ab)