IGI Canangkan Gerakan Bayar Balik

0
1012

Ikatan Guru Indonesia (IGI) mencananghkan Gerakan Bayar Balik, yaitu menggerakkan seluruh elemen bangsa untuk berbuat kebaikan, guna mengingat kembali masa lalunya. Caranya, dengan melakukan sesuatu bagi sekolah yang telah membuatnya sukses pada saat ini. Ketua IGI Kendal, Sunarto SPd MPd mengatakan, gerakan ini merupakan salah satu hasil kongres Kongres II IGI, di Wisma Kalla, Makassar, beberapa waktu yang lalu.

“Melakukan sesuatu karena masa lalu, untuk masa mendatang yang lebih cerah, dalam bentuk Gerakan Bayar Balik. Tindakan yang dilakukan tidak melulu harus dalam bentuk uang, namun seseorang memberikan sesuatu hal yang bermanfaat bagi sekolahnya, mulai dari TK, SD, SMP, maupun SMA/SMK,” ujarnya.

Menurutnya, tindakan bayar balik tersebut bisa juga dengan memberikan sumbangan buku kepada perpustakaan. Hal ini dalam rangka mendorong semua orang agar menjadi pribadi sukses di negeri ini, dan tidak melupakan sekolah, dengan memberikan kontribusi positif sebagai seorang alumni.

“Dalam Gerakan Bayar Balik ini, IGI juga mengajak para Pimpinan Daerah untuk menjadi penggerak awalnya. Sebanyak 25 Pimpinan Daerah telah dikukuhkan sebagai Duta Gerakan Bayar Balik yang dilakukan oleh Mendikbud, Anies Baswedan. Jika gerakan ini sudah menasional, maka diyakini nantinya tidak ada lagi keluhan tentang bangunan sekolah yang rusak, maupun kekurangan buku, dan hal-hal lainnya, karena sudah disumbang oleh para alumninya,”jelasnya.

Dalam waktu dekat ini, IGI Kendal akan segera melakukan audensi dengan Bupati Kendal, agar gerakan ini bisa segera terealisasi di Kota Kendal. Menurut Sunarto,yang saat menjabat sebagai Kepala SMA Negeri 1 Kendal, pihaknya menyakini Gerakan Bayar Balik akan sangat membantu sekolah-sekolah. “Seorang alumni, jika membantu sekolah tempatnya dulu menuntut ilmu, tentu tanpa pamrih. Karena mereka menjadi sukses seperti sekarang, berkat para guru dan sekolahnya dulu,” terangnya.

Selain itu, IGI juga berusaha menerapkan konsep Sharing and Growing Together. Ini merupakan konsep dalam rangka guru berbagi dan saling tumbuh bersama. “Dalam simposium itu, sebanyak 40 guru berbagi best practise dengan ribuan guru lainnya. Misalnya tentang bagaimana menangani siswa bermasalah, merubah mereka menjadi lebih baik, dan menampilkan pengajaran menarik, serta menjadi guru yang menyenangkan dan disukai para siswanya,”katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan tambahkan komentar Anda!
Ketik nama anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.