Konten Siaran RRI harus bisa Diterima Masyarakat Kalangan Muda

0
217

Swrakendal.com : Radio Republik Indonesia (RRI) di tahun 2021 ini berusia 76 tahun, tepatnya tanggal 11 September 2021. RRI sebagai media penyiaran yang memiliki jaringan nasional dinilai cukup efektif sebagai sumber informasi dakwah. Terlebih pada masa pandemi yang mengharuskan orang lebih banyak di rumah, sehingga bisa mendengarkan dakwah atau kajian Islam, seperti pembahasan fiqih dan tauhid yang bisa diterima masyarakat. Hal ini disampaikan Habib Muhammad Firdaus Al Munawar, pengasuh Pondok Pesantren Al Muqorrobin Kota Kendal. 

Habib Firdaus mengatakan, RRI yang sudah mempunyai link dakwah, konten siarannya harus bisa diterima masyarakat, terutama kalangan muda. Pasalnya di era sekarang ini yang harus segera diperbaiki dalah moral agama anak-anak muda. Jangan sampai anak-anak muda yang asyik dengan dunia maya dengan berbagai informasi yang mudah diakses dalam genggaman tangan bisa merubah mindset gaya hidup yang melanggar nilai-nilai agama. Maka anak-anak muda sebagai sasaran utama untuk bisa menerima konten siaran dari RRI. 

“PR terberat RRI adalah bagaimana media RRI bisa diterima kalangan anak muda, karena anak muda itu yang memiliki potensi masih panjang hidupnya, sebagai calon pemimpin masa depan, maka peran penting RRI harus bisa masuk ke kalangan anak muda. Dan RRI sebagai lembaga penyiaran yang paling Istiqomah sepanjang masa, maka tugas RRI harus bisa masuk di kalangan anak muda,” katanya. 

Menurut Habib Firdaus, RRI harus lebih dikembangkan lagi, karena di luar sangat intensif dengan berbagai macam variasi yang bisa menarik kalangan muda. Oleh karena itu RRI harus ada terobosan supaya semakin digemari masyarakat. RRI bisa turun langsung ke bawah melalui kajian-kajian anak muda, misalnya ke pondok-pondok pesantren. “Pesantren sangat berpotensi untuk bisa dimanfaatkan, karena pesantren tetap berjalan di masa pandemi, maka kesempatan RRI bisa masuk di dalamnya,” katanya.

Pondok pesantren justru semakin diminati selama masa pandemi lantaran pembelajaran tatap muka tetap berjalan. Para santri juga merasa senang bisa tetap belajar dan mengaji serta aktivitas lainnya di dalam pondok. Hal ini diakui salah seorang santri Imki Salamah yang sudah hampir 6 tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Muqorrobin Kendal. “Senang belajar di pondok, karena belajarnya enak, terutama pendidikan akhlanya,” ujarnya.

Pendidikan di Pondok Pesantren Al Muqorrobin meliputi jenjang SMP dan Aliyah, selain jenjang Madrasah Diniyah 6 tahun. Jumlah santri putra dan putri hampir 400 santri dari berbagai daerah, di antaranya Kalimantan, Ambon dan Sumatera, selain dari Kendal dan sekitarnya. Pembelajarannya menerapkan metode salaf modern, sehingga masih ada sorogan, bandongan dan tamtaman. Ada tiga jurusan pilihan, yakni Tahfidzul Quran, Kitab Kuning, Bahasa Arab dan Inggris.