Lembaga Dakwah NU Kendal Bahas tentang Kemunculan Tokoh-tokoh Keturunan Nabi Muhammad Saw

Pengajian Selapanan dan Halal bihalal Lembaga Dakwah NU Kendal

0
1747

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Kendal mengangkat topik tentang kemunculan beberapa tokoh yang disebut-sebut sebagai keturunan Rosulullah Muhammad SAW yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Topik ini disampaikan pada pengajian selapanan dan halal bihalal yang digelar di Gedung NU Kendal pada Sabtu pagi (29/06/2019).

Pengajian dengan topik “Ahlul Bait dalam Pandangan Ahlussunnah Waljamaah (Telaah Kritis terhadap Ideologi Ahlul Bait)” menghadirkan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kendal KH Muhammad Danial Royyan sebagai narasumber. Pengajian sekaligus halal bihalal tersebut dihadiri pengurus PCNU, lembaga, badan otonom, dan Majlis Wakil Cabang (MWC) se-Kabupaten Kendal.
Politisasi Ahlul Bait, menurut Danial, issu ahlul bait saat ini manjadi bagian dari issu agama yang sedang dipolitisasi. Ada satu kepentingan membawa-bawa seorang habib dalam politik dan mewajibkan untuk tunduk kepadanya. Karena kalau tidak tunduk dianggap sama dengan bertentangan dengan sabda Rosulullah SAW terkait ucapan “Aku tinggalkan kepada kalian dua warisan jika keduanya kalian pegang maka kalian tidak akan tersesat”. Yang dimaksud dua warisan dalam riwayat pertama disebut kitab Alquran dan assunnah, riwayat kedua menyebut kitab Alquran dan ahlul bait.
“Ahlul” bisa berarti keluarga atau ahli / pakar. “Albait” bisa berarti rumah atau rumah tangga. Bait dapat berarti rumah secara fisik. Ada juga berarti rumah tangga yang bukan bangunan fisiknya yakni hubungan antara suami, istri, dan anak menjadi satu. Sedangkan yang dimaksud ahlul bait disini adalah rumah tangga Rosulullah.
Eksistensi Ahlul Bait di Indonesia akibat
Ekspedisi umat Islam dari Yaman ke Indonesia. Ada 2 kelompok. Yang pertama ahlu baiti rosulillah diantaranya walisongo. Mereka disebut kelompok alawiyyin (berasal dari kata alawi, alawi dari kata Ali yang berarti keturunan Ali}. Dulu ada Rabithatul Alawiyin. Yang pernah ditunjuk menjadi imamnya adalah Habib Ahmad bin Tholib Al Athos Sepuro Pekalongan yang berpaham ahlussunah waljamaah. Kelompok kedua disebut al irsyad yang berpaham wahabi, namun tidak berkembang pesat seperti alawiyin.
Jika dikaitkan dengan kalimat “wa’ala alihi wa sohbihi (‘alihi semakna dengan ahlihi}” Imam Nawawi mengartikan ‘alihi dengan seluruh kaum mukminin.. Ada juga yang berpendapat yang dimaksudkan adalah Ali. Ada juga yang mengartikan banu abdimanaf, banu hasyim yaitu anak – anak keturunan Rosulullah yang dilahirkan Sayyidatina Fatimah.
Abdu Manaf punya putra 4 yaitu Mutholib, Hasyim, Abdu Syamsin, dan Naufal. Salah seorang keturunan Mutholib adalah Imam Syafii. Salah seorang keturunan Hasyim adalah Nabi Muhammad SAW. Salah seorang keturunan Abdu Syamsin adalah Ustman bin Affan dan Muawiyah bin Abi sufyan.
Pada suatu ketika ada cucu Naufal dan Utsman bin Affan yang protes kepada Rosulullah karena tidak menerima ghonimah (harta rampasan perang). Menurut keduanya ada diskriminasi karena yang mendapat hanya anak anak Mutholib dan anak anak Hasyim. Oleh Rosul kemudian dijawab, “anak – anak Mutholib dan anak – anak Hasyim sebelum saya diangkat menjadi nabi sudah membela saya. Begitu juga setelah saya diangkat menjadi nabi, mereka berjuang bersama saya. Sedangkan anak -anak Abdu Syamsin dan Naufal tidak sehingga tidak saya anggap.”
Dari sinilah kemudian muncul perbedaan. Orang yang tersambung pada Rosul itu adalah garis nasab atau biologi. Namun garis biologi ini tidak cukup kalau tidak ada garis ideologi. Sekarang juga terjadi anaknya kyai kampung menjadi kyai besar. Anak kyai malah jadi preman. Malah habib jadi preman juga ada.
Menurut Ibnu Hajar Al Haytami yang menjadi rujukan KH Hasyim Asy’ari pendiri NU yang kemudian ditulis dalam Kitab Risalatu Ahlussunnah wal jamaah wa min aqidati ahlissunnati waljamaati hubbu ahlil baiti nabawi. Bahwa diantara paham ahlussunah waljamaah adalah mencintai ahlul bait rosulillah. Pandangan ini terjadi karena ada 2 paham yang bertentangan. Kalau Syiah mutlak harus ahlul bait. Shahih Imam Bukhori dan Muslim ditolak karena bukan ahlul bait. Sedangkan ahlussunnah waljamaah mengikuti islam dan ahlul bait. Yang Khowarij, ahlul bait itu tidak ada. Namun fenomena sekarang ini wahabi yang semula anti habaib sekarang menjadi pro habaib.
Ada syair yg digunakan sebagai tawasul ahlussunnah waljamaah dan syiah yaitu “Likhomsatun utfi fiha, harrol wabail khotima, almusthofa wal murtadho, wabnahuma wal fatima (aku punya 5 orang yang saya pergunakan untuk bertawassul memadamkan panasnya bala yaitu Nabi Muhammad, Ali, dua putranya Hasan dan Husain, dan Fatimah). Jadi habaib itu seharusnya untuk meredam situasi yang panas bukan menjadi penyulut kegaduhan politik.
Fatimah punya anak Hasan dan Husain, yang Hasan menurunkan Syekh Abdul Qodir al Jailani. Yang menjadi keturunan Husain bin Ali antara lain Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad pencipta Tahlil dan para wali yang terhimpun dalam “Wali Songo”. Salah satu ulama keturunan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani adalah Al Allamah Sayid Ahmad Zaini Dahlan. 8 ulama besar Indonesia adalah muridnya antara lain Syekh Nawawi al Bantani, KH Sholeh Darat, KH Kholil Bangkalan, Syekh Mahfudz Termas. dll. Maka yang dimaksud ahlul bait disini bukan figur perorangannya tapi jamaahnya dan ilmunya.
Warga NU
NU sudah bermahabbah kepada ahlul bait, karena mengikuti pandangan KH Hasyim Asyari, murid dari Syekh Mahfudz Termas, murid dari Sayid Ahmad Zaini Dahlan keturunan Sayyid Hasan RA.
Membaca Manaqib Syekh Abdul Qodir al Jailani juga termasuk salah satu mahabbah ahlul bait karena beliau keturunan juga Sayyid Hasan.
Begitu pula yang menyebarkan Islam ke Jawa adalah Wali Songo yang semuanya habaib kecuali Sunan Kalijaga. Bagi NU, membaca tahlil itu sudah wujud mahabbah atau kecintaan kepada ahlul bait karena di dalamnya juga membaca Surat Al Ahzab ayat 33 yang menyebut kata “…ahlal baiti wayuthohhirukum….”. Tahlilan juga mengikuti Imam Abdullah al Haddad keturunan Sayyid Husain. Jadi NU itu menyambung ke jalur Hasan maupun Husain. Mencintai ahlul bait bukan bukan karena namanya ada habibnya atau sebutan lain tapi jamaahnya dan ilmunya.
Menurut Imam Hanafi, habaib digolongkan menjadi dua yaitu dhohir (jelas) dan mutasatir. Anak keturunan Hasan dan Husain dhohir. Ada yang silsilahnya sampai tapi tidak diekspose. KH Hasyim Asyari termasuk yang mutasatir. Imam Hanafi sering bersedekah kepada para habib dhohir maupun mutasatir. Habib mutasatir ini yang di Banten disebut Tobagus dan di Magelang disebut Raden. Di Magelang pernah ada habib yang namanya Habib Abdullah, panggilannya Den Dul. KH Khudhori nggak mau berangkat ke masjid kalau tidak mendampingi Den Dul.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan tambahkan komentar Anda!
Ketik nama anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.