Perpusnas Gandeng Jamal Mirdad Safari Gerakan Gemar Membaca di Kendal

0
635

Sekitar 91 persen masyarakat Indonesia, ternyata lebih suka menonton televisi, sedangkan yang suka membaca, baik koran atau buku hanya sekitar 17,6 persen. Hal ini dikatakan Dra Lucya Dhamayanti, M.Hum Kepala Direktorat Deposit Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI. Dalam Safari Gerakan Gemar Membaca di Pendapa Kabupaten Kendal Kamis (1/9), Lucya mengatakan, minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Upaya pemerintah adalah terus melakukan gerakan pengembangan perpustakaan dan taman baca di masyarakat.  “Untuk menjangkau masyarakat, akan memrioritaskan dengan perpustakaan keliling dan menambah koleksi buku,”katanya.

Lucya mengatakan, Gerakan Gemar Membaca yang dilakukan adalah menganjurkan di sekolah-sekolah agar membiasakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Ini dilakukan untuk membentuk budaya gemar membaca. Pada hakekatnya dengan membaca akan membentuk karakter anak. “Harapannya, sekolah-sekolah sudah melaksanakan ini,”harapnya.

Sementara itu, untuk mengatasi kekurangan koleksi buku, Perpusnas telah menyediakan aplikasi buku elektronik yang bisa diakses melalui internet. Saat ini sudah ada sekitar 20 ribu judul. “Aplikasi ini untuk memudahkan mencari buku, tanpa harus membeli, tapi cukup melalui internet,”katanya.

Lucya mengatakan, Gerakan Gemar Membaca ini untuk menuju masyarakat yang berbudaya yang harus diawali dengan membaca. Hak masyarakat adalah mendapat akses mendapatkan ilmu. Pemerintah pun harus menyediakan fasilitas supaya masyarakat lebih mudah mendapatkan buku sebagai sumber belajar. Dengan banyak membaca, maka masyarakat Indonesia menjadi cerdas dan sejahtera. “Untuk mencerdaskan, sarananya melalui perpustakaan sebagai sarana belajar sepanjang hayat,”katanya.

Diingatkan, pada era MAE ini dituntut untuk lebih kompetitif. Jika tidak ingin kalah bersaing dengan bangsa lain, maka harus membekali diri dengan meningkatkan keterampilan atau kemampuannya, supaya tidak kalah dengan bangsa lain. “Jika ingin maju, maka harus menjadi bangsa yang cerdas, dan supaya cerdas, maka harus banyak membaca,”ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Jamal Mirdad mengatakan, membaca adalah jalan menuju kepintaran. Untuk itu hendaknya bukan hanya gerakan gemar membaca, tapi gerakan membaca sebagai bagian dari kewajiban. Hal ini dilakukan untuk mencerdaskan regenerasi, karena regenerasi merupakan tonggak meningkatkan kemajuan bangsa. Jamal Mirdad mengatakan, kondisi perpustakaan daerah di Indonesia banyak yang kurang memenuhi standar. “Di Indonesia hanya sekitar 4.000 perpustakaan daerah yang benar-benar aktif. Sebagian besar kondisinya kurang memadai, sehingga mempengaruhi minat masyarakat untuk berkunjung. Menurutnya, hal ini karena kondisi keungan daerah, sehingga belum bisa mengalokasikan anggaran untuk perbaikan perpustakaan,”kata mantan penyanyi era 80-an itu.

Jamal mengatakan, perpustakaan yang baik seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, seperti tempat parkir yang luas, ada kantin, memiliki fasilitas musik, sehingga membuat pengunjung menjadi nyaman. Jamal mengatakan harapannya agar di tahun 2017 mendatang sudah ada solusi untuk perbaikan perpustakaan daerah. “rencananya Kami akan membicarakan, antara anggota komisi DPR dengan pemerintah untuk mencari solusi pembenahan perpustakaan daerah di Indonesia,”ujarnya.

Sekda Kendal Bambang Dwiono mengatakan, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Dari hasil survey di 65 negara, ternyata Indonesia berada rangking ke-63. Kondisi ini cukup memprihatinkan, untuk itu gerakan minat baca harus digencarkan.
Sekda melihat, kondisi perpustakaan yang ada masih kurang memadai, karena tidak didukung sarana prasarana. “Pemerintah harus memberikan pelayanan terhadap perpustakaan di sekolah dan masyarakat supaya ditingkatkan,”harapnya.

Sekda Bambang juga berharap, perpustakaan harus dikembangkan sampai ke desa-desa hingga di tingkat RT RW. Bahkan menganjurkan agar tiap rumah minimal memiliki perpustakaan kecil. “Tanamkan pendidikan karakter sejak dini melalui membaca. Tidak ada peradaban dan negara maju, kecuali masyarakatnya gemar membaca,”ujarnya.