Rumah Sastra Kaliwungu Bedah Buku Kumpulan Cerpen Karonsih Karya Mugi Astuti

Rumah Sastra Kaliwungu Bedah Buku Kumpulan Cerpen Karonsih Karya Mugi Astuti

0
192

Swarakendal.com : Sebuah buku kumpulan cerpen berjudul “Karonsih” karya Mugi Astuti, cerpenis asal Mijen Semarang menjadi menarik dibedah. Pasalnya, penulisnya adalah seorang perempuan mantan buruh migran Indonesia (BMI) di Hongkong selama tujuh tahun yang bercerita tentang ketidakadilan yang masih banyak dialami oleh kaum perempuan. 

Bedah buku kumpulan cerpen ini digelar di Rumah Sastra Kaliwungu, Minggu (12/6/2022) yang menghadirkan si penulis, Mugi Astuti dan sebagai pembedahnya Heri Candrasantosa, seorang pegiat Sastra Lereng Medini dan Ifah Kanaya, mantan BMI yang menjadi Penyalur Jasa TKI.

Buku kumpulan cerpen ini berisi 16 judul cerpen yang berkisah tentang ketidakadilan yang dialami kaum perempuan. Sebagian cerpennya berlatar tentang kehidupan perempuan ketika bekerja sebagai BMI dan sebagian berlatar ketika di negeri sendiri. “Saya tulis cerpen ini selama satu tahun sejak 2019, setelah mengikuti Kelas Menulis Cerpen yang dibimbing oleh Budi Gunawan, sastrawan asal Semarang itu,” katanya.

Mugi mengatakan, bahwa sampai saat ini masih banyak perempuan yang tertindas, karena hanya pasrah menjalani hidup yang sebenarnya tidak sesuai keinginan hatinya, sehingga tidak nyaman. Untuk itu ia berharap, kaum perempuan jangan hanya diam, ketika menjalani hidup yang tidak sesuai dengan hatinya. “Buku ini memceritakan, supaya perempuan jangan hanya diam, ketika ada sesuatu yang tidak nyaman atau tidak sesuai dengan hantinya, maka bergeraklah,” harapnya.

Pengelola Rumah Sastra Kaliwungu, Anik Faiqoh mengatakan, merasa tertarik membedah buku ini, karena temanya menarik yang menceritakan tentang kehidupan kaum perempuan. Kumpulan cerpennya memiliki genre yang berbeda dengan cerpen-cerpen biasanya. “Tujuan uatama bedah cerpen ini, ingin memberikan pengetahuan kepada masyarakat, setidaknya untuk teman-teman di Kendal menjadi tahu isi cerpen yang memang berbeda dengan cerpen biasa,” jelasnya.

Dari segi sastra, menurut Heri Candrasantosa, bahwa takdir sastra adalah berpihak kepada korban. Dan penulis cerpen Mugi Astuti ini merupakan bagian dari orang yang berpihak terhadap ketidakadilan atau kepada korban.  Secara bahasa, ceritanya mengalir dan anak dinikmati. “Cerpen-cerpen ini bagian dari keberpihakan dia kepada penindasan, kepada korban, pada fenomena yang dia lihat melalui kawan-kawannya buruh migran,” katanya.