DKK Kendal Tekan Angka Kematian Ibu Melahirkan

0
1180

Angka kematian ibu melahirkan di Kab Kendal tergolong tinggi, nomor delapan tertinggi di Jateng. Sesuai data dari Dinas Kesehatan Kab Kendal, jumlah kematian ibu melahirkan di tahun 2013 senanyak 21 orang. Tahun 2014 turun menjadi 19 orang, namun di tahun 2015 naik menjadi 23 orang. Semantara di tahun 2016 hingga Senin (6/6/2016) ini sudah ada 9 orang.

Upaya terus dilakukan untuk menekan angka kematian ibu melahirkan di Kab Kendal. Kepala Dinas Kesehatan Kab Kendal dr Widodo Moh Utomo mengatakan, upaya yang dilakukan di mulai dari peningkatan SDM bagi tenaga kesehatan, penambahan fasilitas dan peningkatan pelayanan. “Kami sudah banyak melakukan upaya-upaya itu, insya Allah bisa turun,”harapnya.

Pihak dinas juga membuat kebijakan-kebijakan untuk penanganan ibu melahirkan, seperti persalinan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. Bahkan persalinan harus dilakukan di puskesmas, klinik atau rumah sakit. Kebijakan sekarang, untuk penanganan persalinan harus dilakukan minimal oleh dua petugas kesehatan, yaitu bidan desa dan petugas kesehatan partnernya.

“Bagi ibu hamil, selama masa kehamilan, minimal melakukan pemeriksaan 4 kali, dan minimal satu kali periksa kehamilan ke dokter,”katanya.

Kasi Kesehatan Keluarga pada DKK Kendal dr Nancy Wardani mengatakan, nantinya semua penanganan ibu melahirkan dilakukan di puskesmas, klinik atau rumah sakit. Sehingga bagi bidan desa akan membawa ibu yang hendak melahirkan ke puskesmas. Hal ini dilakukan supaya penanganan persalinan benar-benar maksimal, baik peralatan maupun tenaga medisnya. Sosialisasi kebijakan ini sudah dilakukan kepada semua kepala puskesmas, supaya disampaikan kepada seluruh bidan desa. Dan beberapa Puskesmas kecamatan sudah melaksanakan. “Belum semua melaksanakan. Yang sudah melaksanakan di antaranya Puskesmas di Kecamatan Pageruyung, Patean, Ringinarum dan Brangsng,”katanya.

Upaya lain adalah melakukan program Sistem Jejaring Rujukan Maternal neonatal  (Sijari Emas). Sistem ini supaya penanganan ibu melahirkan lebih maksimal, karena jaringan antar puskesmas dengan rumah sakit yang ada akan terkoordinasi dengan baik. Sistem ini membutuhkan peralatan yang cukup mahal, terutama servernya sekitar Rp 100 juta. “Kami sudah mengajukan, tinggal menunggu acc,”ujarnya.