Anak-anak SLB Mutiara Bangsa ternyata Pintar membatik

Anak-anak SLB Mutiara Bangsa ternyata Pintar membatik

0
255
Seni membatik tidak selalu dimiliki oleh orang yang pintar menggambar atau melukis. Orang yang tidak pintar melukis pun bisa membuat karya batik yang memiliki nilai seni. Hal ini telah dibuktikan oleh murid-murid SLB Mutiara Bangsa yang berada di Desa Curugsewu Kecamatan Patean. Bahkan hasil karya batiknya banyak diminati orang-orang luar negeri, seperti Belgia, Jepang, Amerika dan Belanda.

Sekolah anak-anak berkebutuhan khusus pimpinan Nina Dewi Nurchipayana tersebut tiap Kamis memberikan pelajaran ekstrakurikuler membatik. Ada dua jenis batik yang diajarkan, yaitu batik ciprat dan batik tulis.
Koordinator Bidang Batik SLB Mutiara Bangsa, Hanny Dwi Prasetyaningsih mengatakan, batik ciprat bisa dikerjakan oleh semua orang, termasuk anak-anak yang mengalami kesulitan memegang alat tulis. Jika dikerjakan dengan penuh perasaan, maka akan menghasilkan batik ciprat yang memiliki ciri khas, sesuai dengan perasaan atau emosinya. “Batik ciprat juga bisa dipadukan dengan batik tulis, sehingga menjadi lebih indah,” katanya.
Hanny mengatakan, memberikan pelatihan membatik bagi anak-anak dengan tujuan agar-agar anak-anak setelah lulus dari SLB bisa memiliki sumber penghasilan sendiri. Yaitu melalui hasil karya batik yang dikerjakan sendiri maupun bersama-sama. “Jadi, kami ingin anak-anak bisa mandiri, namun bisa juga tetap bersama-sama kami membuat kerajinan batik,” katanya.
Untuk memperkenalkan karya batik anak-anak didiknya, pihaknya sering mengikuti pameran supaya semakin banyak dikenal. Saat ini, batik yang dikerjakan menggunakan pewarna alami, seperti pewarna dari pohon mahoni, kulit manggis dan tumbuh-tumbuhan lainnya. “Melalui pameran ternyata mendapat sambutan yang bagus dan membeli atau pesan batik dari anak-anak,” katanya.
Ahmad Priyadi, salah satu siswa yang pintar membuat batik tulis mengaku senang bisa membuat batik tulis. Hobi dan bakat melukisnya bisa dituangkan dengan membuat batik tulis yang bisa dikerjakan setiap hari. “Saya mulai belajar membatik tulis, sejak di sekolah ini,” ujarnya.