Walaupun banyak Rintangan, Dian tetap Jalani sebagai Petugas Paramedis Penanganan Covid-19

Walaupun banyak Rintangan, Dian tetap Jalani sebagai Petugas Paramedis Penanganan Covid-19

0
52

Banyak rintangan dan tantangan yang dialami para tenaga medis maupun paramedis selama bertugas menangani covid-19. Hal ini dialami juga beberapa paramedis dan tenaga medis di Kabupaten Kendal. Salah satunya Dian Eka (32) asal Kabupaten Kendal, bidan desa yang bertugas sebagai tenaga paramedis. Namun ia tetap bertahan untuk berjuang sebagai bentuk tanggungjawab atas profesi yang dijalankan.

Perempuan yang tinggal di desa di Kecamatan Brangsong ini harus berjuang menghadapi warganya yang belum memahami betul tentang covid-19. Beberapa kali ia menerima perlakuan yang kurang baik dari masyarakat saat bertugas, mulai dari cacian, bahkan dihadang hingga mendapatkan teror. Adanya rintangan tersebut, sampai-sampai suaminya pernah meminta untuk berhenti bertugas menangani cobid 19, karena tak tak tega melihat apa yang dialami sang istri.

“Karena banyak rintangan, suami saya pernah menyarankan untuk berhenti sebagai tenaga paramedis menangani covid 19. Suami merasa kasihan dengan yang saya alami. Beberapa dari keluarga saya juga menyarankan hal yang sama,” tuturnya saat ditemui di Puskesmas I Kecamatan Brangsong, Rabu (29/7/2020).

Dian tetap memilih bertahan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warganya. Karena ia hanya ingin masyarakat bisa hidup sehat dan terhindar dari wabah virus korona. Oleh karena itu konsekuensi apapun harus diterima sampai masyarakat bisa menerima dan memahami apa yang ia lakukan semata-semata demi kebaikan masyarakat. 


Sejak tahun 2011, Dian sendiri sudah menjadi bidan desa dan setelah adanya pandemi covid 19, sekitar Maret 2020 ia ditugaskan sebagai paramedis dalam penanganan covid-19. Sepanjang 5 bulan tersebut, ia mendapatkan banyak pelajaran dari profesinya.
Sesuai tugasnya, ia harus turun langsung ke pelosok desa-desa melakukan tracing hingga melakukan penjemputan jika ada warganya yang terkena virus corona. Dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap didampingi Bhabinkamtibmas maupun TNI, perempuan hijab ini beberapa kali dihadang oleh warga. Tak sedikit warga yang menolak, bahkan memaki dengan kata-kata kotor. Pernah juga kendaraannya dicegat. Bukan hanya itu, ia pernah mendapat teromelalui pesan Whatsapp dan dilempari batu di tempat ia bekerja, hingga dianggap penyebar berita hoax.


“Sedih, menangis dan lelah sebenarnya, tetapi tetap harus menjalankan tugas dan tanggungjawab profesinya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada warga,” katanya. 


Menurutnya, apa yang dialami lantaran kurangnya informasi dan pemahaman warga terhadap bahaya covid-19. Oleh karena itu ia harus terus memberikan edukasi tentang bahaya maupun cara pencegahan virus corona.
“Ada suatu warga menolak kami, dihadang. Kami juga dianggap sebagai orang yang mencari-cari sesuatu, mempercepat SPJ turun, bahkan dibilang mencari keuntungan semata. Banyak warga menuduh kita bekerja hanya karena uang, dan banyak pengalaman lain. Kita tetap sebut ini tugas dan tanggungjawab profesi untuk mencegah penularan yang ada,” katanya.


Kini, Dian bersama tenaga paramedis maupun tenaga medis lain masih harus berjibaku menangani covid-19. Terlebih saat kasus positif corona yang terjadi di Kabupaten Kendal meningkat tajam, sementara tidak ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya pandemi ini.
“Imbauan kepada warga tetap rutin kita jalankan, tracing tetap kita lakukan setelah adanya warga yang dinyatakan positif corona. Kita observasi, periksa dan kita sarankan isolasi mandiri. Kalau hasil tes rapid menunjukkan reaktif, kita usulkan untuk dilakukan swab,” terangnya. 


Dikatakan, kebanyakan pasien positif nurut untuk dijemput dan diisolasi tanpa perlawanan. Keluarga intinya pun rata-rata mendukung kinerja medis, hanya saja justru beberapa kerabat jauh hingga tetangga sekitar yang memalukan penolakan dan tak mau untuk dilakukan tracing. Berbagai kejadian itulah, Dian bisa mengambil pelajaran dan pengalaman dan sebagai motivasi untuk dirinya. Dian tetap memiliki semangat, apalagi mendapat motivasi dari keluarga, sahabat, hingga rekan kerja hingga saat ini. Support dari orang-orang terdekat sudah kembali dan bertambah besar. Ia yakin, apapun yang diusahakan meskipun pelan akan menuai kebaikan untuk semua orang.  

“Yang jelas gak boleh ada kata menyerah, gak boleh ada kata pasrah, yang ada harus tetap melakukan. Toh ini untuk kebaikan bersama. Harapan saya buat teman-teman seperjuangan, kita harus bekerjasama dengan pemerintah desa, dengan aparat setempat. Agar kita kuat, agar penanganan lebih maksimal, agar sejalan dalam menangani covid-19 ini. Kemudian, jangan lupa lindungi juga keluarga kita masing-masing,” pungkas Dian.