Warga Kelurahan Bandengan Kendal Gelar Tradisi Budaya Sadranan Sedekah Laut dan Sedekah Bumi secara Sederhana

Warga Kelurahan Bandengan Kendal Gelar Tradisi Budaya Sadranan Sedekah Laut dan Sedekah Bumi secara Sederhana

0
69

Warga Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal tetap melaksanakan tradisi Budaya Sadranan Sedekah Laut dan Sedekah Bumi di tengah pandemi Covid-19, Jumat (11/9/2020). Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan Sedekah Laut tahun ini dilakukan secara sederhana, namun tetap dengan rangkaian acara yang tidak berbeda, yaitu diawali dengan karnaval mengarak miniatur perahu berisi sesaji yang akan dilarung ke laut. 


Miniatur perahu itu diarak dari TPI Bandengan menuju Makam Mbah Jenggot dan Mbah Rancang yang berjarak sekitar 1 km, kemudian kembali ke sungai di tepi TPI. Selanjutnya dibawa menggunakan perahu untuk dilarung ke laut.


Panitia penyelenggara, Ahmadi mengatakan, kegiatan sadranan dan sedekah laut ini sudah menjadi tradisi yang digelar setiap tahun. Tujuannya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat dengan harapan terus diberi rizki yang melimpah, baik dari hasil bumi maupun dari laut. “Kegiatan tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, Karena kondisi masih pandemi Covid-19, maka tahun ini kami batasi untuk karnaval dan kegiatan seni yang banyak mengumpulkan masa,” ungkapnya.


Ketua RT 04 RW 01 kelurahan Bandengan, Kamdi mengatakan, berziarah ke makam Mbah Jenggot dan Mbah Rancang merupakan bentuk penghormatan untuk mendoakan kepada kedua sesepuh yang berjasa membangun kawasan Bandengan. Dri cerita secara turun-temurun di masyarakat Bandengan, bahwa Mbah Jenggot dipercaya sebagai tokoh nelayan dan Mbah Rancang dipercaya sebagai tokoh yang merancang atau membuka kawasan Bandengan. 
“Intinya acara ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur, karena dengan banyak bersyukur dan bersedekah, insya Allah rizki akan terus melimpah.” ungkapnya.


Sementara itu, Lurah Bandengan, Sutarjo mengatakan, tradisi sadranan ini memang tiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat kelurahan Bandengan. Namun, karena dalam kondisi pandemi Covid-19, maka diimbau kepada masyarakat, agar tetap mematuhi protokol kesehatan dan membatasi kegiatan yang mendatangkan kerumunan, seperti orgen tunggal, dangdutan dan lain-lain. “Sebagai ungkapan rasa syukur atas rejeki dan hasil tangkapan ikan dari laut, makanya warga menyelenggarakan kegiatan ini, namun tetap mematuhi protokol kesehatan,” kata Sutarjo.

Suasananya memang berbeda. Tidak tampak adanya keramaian, seperti keramaian pedagang kakilima dan pasar malam. Juga tidak terdengar hiburan musik yang biasanya terdengar di tiap-tiap blok atau masing-masing RT.