Peran Penting Kader TOSS TBC Kendal dalam Penanggulangan TBC

0
89

Di tengah Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama hampir enam bulan lamanya, penyakit dan virus lain tetap menyebar dan menjatuhkan korban. Perhatian masyarakat atas penyebaran virus dan penyakit lain yang teralihkan oleh pandemi Covid-19 menjadikan pemahaman tentang hal tersebut kurang diketahui oleh masyarakat, seperti tanda gejalanya, penyebarannya dan cara mencegah serta mengobatinya. Salah satu penyakit yang terus memakan korban di tengah pandemi adalah TBC atau Tuberkulosis yang dikenal dengan TB, merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Ciri umumnya yang paling mudah dikenali adalah, penderita mengalami batuk selama tiga minggu, mengeluarkan dahak , dan bahkan bisa mengeluarkan darah. Kuman TBC tadi, tidak hanya menyerang paru-paru melainkan dapat menyerang juga ke usus, tulang dan kelenjar. Penyakit ini ditularkan melalui percikan air liur atau droplet penderita pada saat batuk, bersin atau berbicara. Ciri penularannya memang hampir mirip dengan Covid-19 , hanya saja ada beberapa gejala lain yang dapat memperakurat bahwa seseorang telah terjangkit TBC. Yaitu seperti demam, lemas, tidak nafsu makan yang kemudian disusul dengan turunnya berat badan, nyeri dada dan berkeringat di malam hari

Adapun cara mencegahnya adalah dengan memberikan vaksin sedari bayi berusia dua tahun, mengenakan masker saat berada dalam tempat umum , tutup mulut dan hidung saat tertawa, bersin dan batuk, tidak membuang ludah sembarangan dan yang paling penting adalah menjaga jarak dengan seseorang yang sudah positif menederita TBC. Selain tanda  gejala yang sudah di sebutkan tadi, seseorang yang memilki gejala serupa dapat melangsungkan tes dahak,rontgen dada, tes darah dan tes kulit untuk mengetahui hasil apakah terdeteksi TBC atau tidak. Penderita TBC juga disarankan memeriksakan diri apakah mengidap virus HIV atau tidak, dikarenakan penyakit TBC sangat mudah menular kepada penderita HIV. Untuk pengobatannya penderita dapat meminum obat yang sudah disarankan dokter selama minimal enam bulan, pengobatan juga tidak boleh berhenti di tengah jalan atau membolos satu dua kali saja. Karna progress meminum obat tersebut dilaksanakan secara lanjut selama minimal enam bulan tersebut, maka dari itu dibutuhkan pengawasan keluarga atau orang terdekat dari pasien , supaya dapat memantau dan mengingatkan proses pengobatan yang berlangsung lama tersebut. Fatalnya , jika pasien berkali kali gagal melangsungkan pengobatan teratur selama waktu yang sudah di tentukan dan berkali kali mengulang proses dari awal, pasien bisa memeliki kekebalan terhadap obat sehingga sulit untuk sembuh.

Di kabupaten Kendal, kasus TBC yang terakhir tercatat pada pertengahan tahun 2020 ini mencapai 2.918, dengan pasien positif 643 dan suspect atau yang sudah mengalami gejala sebanyak 2.275 kasus. Untuk menangani kenaikan kasus TBC yang terus terjadi di kabupaten Kendal, terbentuklah relawan kader TOSS (Temukan , Obati , Sampai Sembuh) TBC yang diambil dari kader kesehatan desa. Masing – masing kecamatan akan diwakilkan oleh tiga kader TOSS TBC yang mempunyai peran untuk menanggulangi TBC dan HIV aids. Kader TOSS TBC telah di latih dan diberikan pemahaman yang mumpuni tentang TBC, sehingga telah mendedikasikan diri untuk membantu pemberantasan atau penanggulan pada kecamatan masing-masing. TOSS TBC di rekrut dan di bimbing SSR atau TB Care Aisiyah kabupaten Kendal serta berkerjasama dengan DKK (Dinas Kesehatan Kabupaten) Kendal.

Menurut Ibu Solikhati , salah satu kader TOSS TBC dari kecamatan Plantungan menyatakan , bahwa dengan adanya bantuan dari kader TOSS TBC, kasus – kasus TBC lebih cepat terdeteksi , sehingga meminimalisir penularan dan kematian akibat pasien TBC yang terlambat ditangani, atau bahkan tidak menyadari akan penyakit TBC yang sudah di idap pasien. Selama menjadi kader TOSS TBC, Ibu Solikhati menyayangkan kurangnya kesadaran masyarakat, terhadap bahaya TBC, terlepas dari tugas beliau mengambil sampel dahak suspect TBC dan menyetorkannya ke dinas kesehatan untuk di uji laboratorium, tugas kader TOSS TBC juga memberikan edukasi dan pengertian tentang penyakit TBC serta mengawasi konsumsi obat pasien , sehingga dipastikan pengobatan tuntas sampai enam bulan. Seperti menghimbau anggota keluarga pasien untuk menjaga jarak, memisahkan alat makan dan minum, menyiapkan tempat buang dahak sesuai prosedur, dan menyarankan pasien untuk segera melakukan pengobatan intensif pada satu dan dua bulan pertama setelah positif menderita penyakit TBC.

Sebagai kader yang kerap berinteraksi secara langsung dengan pasien positif, kader diharuskan mengenakan APD sesuai anjuran dan standar dari dinas kesehatan, agar tetap aman ketika menjalankan tugas. Bahkan selama masa pandemi, kader TOSS TBC tidak berhenti bekerja untuk terus mencari pasien positif atau suspect TBC agar dapat segera ditangian sesuai prosedur. Teralihkan perhatian oleh pandemi Covid-19 yang lebih besar, penularan penyakit TBC pun cukup cepat, setiap batuk dan mengeluarkan droplet, terdapat sekitar 45.000 kuman yang keluar dan kemungkinan menyebar. Ibu Solikhati juga menyatakan bahwa kuman TBC ini cukup sulit untuk mati, bahkan pada ruangan dengan suhu yang lembap, tidak mendapatkan sinar matahari, kuman hanya akan tertidur dan tidak mati.

Suka duka menjadi kader TOSS TBC juga tidak sedikit, ada pasien yang ketika dimintai sampel dahak, tidak lekas memberikan sampel, sehingga sulit diketahui positif terdeteksi TBC atau negatif. Pada saat pandemi covid-19 ini merupakan waktu yang rawan untuk berkeliling mencari pasien dari desa ke desa, namun dengan gigih kader TOSS TBC tetap menjalankan tugasnya. Demi berkurangnya pasien TBC , meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya TBC, dan bagi pasien positif untuk segara mendapatkan pengobatan dan penanganan yang sesuai , serta mencapai target Indonesia Bebas TBC yang diharapkan terwujud pada tahun 2030.

Tsania Ariffani / Universitas Amikom Yogyakarta