Sanggar Kejeling Pentaskan Dalang Cilik Anggito Jagad Mardhiko

Sanggar Kejeling Pentaskan Dalang Cilik Anggito Jagad Mardhiko

0
59

Sanggar Kejeling menggelar pentas wayang kulit di tempatnya di Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring, Jumat (16/10/2020) malam. Pentas yang berdurasi sekitar 2 jam menampilkan dalang cilik Anggito Jagad Mardhiko (14th) dengan lakon “Sumilaking Pedhut Ekocokro”. 
Pimpinan Sanggar Kejeling, Agus Riyanto mengatakan, pentas wayang kulit ini sebagai ungkapan rasa kangen para pegiat seni budaya, khususnya wayang kulit yang sejak awal masa pandemi Covid-19 tidak boleh menerima tanggapan. Adanya pandemi ini sangat berdampak pada kehidupan para seniman yang sebagian mengandalkan kebutuhan hidupnya dengan menerima job atau tanggapan dari orang yang punya hajatan, seperti pernihakah, khitanan atau lainnya. “Pentas wayang kulit kali ini untuk melepas rasa kangen, karena sudah lama tidak menerima job, semoga bisa menghibur dan tetap semangat berkesenian,” katanya.

Penampilan bocah yang masih duduk di kelas 8 SMP Negeri 1 Cerpirng cukup menghibur penonton. Iringan musik gamelan juga didukung para pengrawit muda dan para sinden yang masih remaja.

Agus Riyanto mengatakan, dengan pentas ini juga untuk menunjukkan, bahwa seni budaya, khususnya wayang kulit masih eksis. Dalam kondisi apapun seni budaya harus dirawat dan dikembangkan, karena seni budaya harus mengikuti perkembangan zaman. “Kita bersama-sama tetap berdoa supaya seni budaya tetap eksis, semoga pandemi ini segera berakhir,” harapnya. 

Dalan cilik Anggito Jagad Marhiko merupakan putra dari Agus Tiyanto, pemilik Sanggar Kejeling. Belum lama ini berhasil meraih juara Lomba Dalang Bocah di Yogyakarta sebagai juara harapan 3. “Kami minta supportnya menjadi dalang yang pintar, tetapi yang penting lagi supaya terus semangat mencintai seni budaya,” ujarnya. 

Agus mengatakan, pentas wayang kulit ini merupakan rangkaian kegiatan tradisi Selamatan Mongso Labuh yang dilakukan padi hari di persawahan. Tradisi Selamatan Mongso Labuh dilakukan secara sederhana oleh para petani sebagai pertanda dimulainya masa bercocok tanam. Tradisi Selamatan Mongso Labuh ini untuk berdoa bersama memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa supaya diberi keberkahan panen yang melimpah. “Keberhasilan petani juga berimbas pada kesejahteraan masyarakat lainnya, karena dari hasil panen inilah masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pangannya,” katanya.


Pentas yang digelar di masa pandemi ini menerapkan protokol kesehatan, yaitu dengan jumlah penonton terbatas. Penonton harus memakai masker dan sebelum masuk dilakukan pemeriksaan suhu tubuh. Kursi penonton pun dibatasi dan diatur jaraknya.