SIKAP DAN CARA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

SIKAP DAN CARA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

0
45

SIKAP DAN CARA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

Oleh: Lina Izzatul Wardah

Adanya pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia ini menyebabkan keterbatasan dari segala aspek bidang seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial. Dari 208 negara yang ada di bumi, hanya kurang dari sepuluh negara pulau dan luas wilayah yang kecil, dan nyaris terisolasi yang masih aman. Paling tidak hingga hari ini. 

Dalam kurun waktu enam bulan, sejak diumumkan oleh China pada bulan Januari lalu, kemudian berdasarkan hasil analisis badan kesehatan dunia (WHO), yang akhirnya menyatakan sebagai pandemic di bulan April. Saat tulisan ini dibuat, total kasus yang terjangkit Corona Virus ada 40,6 juta jiwa, sembuh 27,8 juta dan yang meninggal dunia 1,12 juta jiwa. Untuk data terakhir di Indonesia total kasus ada 369.000, sembuh 294.000 dan yang meninggal dunia 12.734 jiwa. 

Menurut M. Ridha Rasyid dalam tulisannya seenggaknya ada lima penyebab mengapa virus ini semakin merajalela bahkan hingga sudut ruang kecil dalam klastar-klastar baru, seperti perkantoran, rumah sakit, perumahan dan ruang public lainnya.• Pertama, keterlambatan pemerintah dari negara sumber virus ini mengumumkannya, padahal kita sudah paham bagaimana kinerja virus ini mewabah yang hamper semua virus itu karakternya cepat dan mematikan.• Kedua, banyak negara yang malu-malu mengakui adanya virus ini di negaranya atau menganggap sepele dampak dari virus ini.• Ketiga, upaya pencegahan dan ketersediaan alat deteksi dini pemeriksaan kesehatan warga yang lamban dan terbatas.• Keempat, kepatuhan warga dunia untuk memproteksi diri dari kemungkinan keterjangkitan diri amat rendah, dan• Kelima, menejemen pencegahan, pengendalian dan penanganan yang ambruadul.

Untuk itu bagaimana sikap dan cara yang harus kita lakukan untuk menghadapi pandemic ini? Pertama-tama sikap yang harus kita terapkan adalah jengan pernah menyerah. Optimism dalam situasi sekarang perlu dibangunkembali. Kita tidak boleh terjebak dalam suasana batin yang pasrah. Pandemic ini akan berakhir, hanya mungkin perlu waktu, bilapun vaksin telah tersedia dan diberikan kepada rakyat, bukan berarti dampaknya akan segera berakhir. 

Para ahli mengatakan bahwa setelah vaksin itu diinjeksi, paling tidak membutuhkan waktu lima tahun hingga satu decade baru bisa pulih kembali. Memang, bukan waktu yang sedikit. Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Dengan tetap menerapkan protocol kesehatan secara benar, tepat dan ketat seraya dengan diseimbangkan sikap bangkit, kita bisa menjaga diri kita untuk tetap menjaga pola hidup sehat dengan nutrisi serta olahraga yang cukup, akan jadi capital penting untuk kita bangun sikap jangan menyerah. 

Kedua, kebersamaan dan gotong royong. Untuk menghadapi krisis ekonomi dan kesehatan seluruh elemen masyarakat harus berperan serta membantu pemerintah untuk keluar dari krisis tersebut. Dengan kata lain, seluruh elemen masyarakat harus mempunyai kepedulian dan kesadaran kolektif yang solid dan kuat untuk bersama-sama berupaya mengatasi pandemic Covid-19 ini. 

Kepedulian dan kesadaran kolektif yang solid dan kuat inilah yang dapat melahirkan kebersamaan dan gotong royong saling bahu membahu menekan penyebaran Covid-19 sekaligus memulihkan ekonomi.  Energi positif dari kebersamaan, gotong royong, solidaritas, saling menguatkan dan toleransi harus ditumbuhkan kembali. 

Mematuhi protocol kesehatan (jaga jarak aman dan hindari kerumunan, hindari kontak langsung seperti salaman dan berpelukan, menggunakan masker dengan benar, siap sedia cairan anti septik) juga merupakan bagian dari gotong royong dan kebersamaan dalam menghadapi krisis kesehatan. Tanpa disiplin dan gotong royong mematuhi aturan dan kebijakan, maka kita tidak dapat memutus mata rantai penyerabaran Covid-19. Oleh karenanya perlu ditumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kita semua senasib sepenanggungan dalam menghadapi pandemic Covid-19.

Ketiga, menjaga mental kesehatan. Selain dihimbau untuk menjaga kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus diperhatukan. Pertama-tama harus mengenali apa saja gangguan dari kepribadian. Dilansir dari www.psychologytoday.com ada 10 gangguan kepribadian1. Paranoid, selalu curiga dan tidak percaya pada orang lain, bahkan kawan, keluarga dan pasangan sendiri2. Skizotipal, orang yang takut pada interaksi sosial dan menganggap orang lain berbahaya3. Ambang (Bordeline), emosi tidak stabil, mudah marah, implusif, mengalami perasaan hampa, suka menyakiti diri sendiri dan beresiko tinggi bunuh diri.4. Dependen, kurang percaya diri dan tidak butuh bantuan orang lain dalam membuat keputusan sehari-hari.5. Schizoid, suka menyendiri, tidak ingin berhubungan sosial dan seksual, tidak peduli pada orang lain dan tidak memiliki respon emosional6. Antisosial, sering mengabaikan peraturan dan kewajiban sosial, mudah tersinggung, bertindak implusif, dan tidak memiliki rasa bersalah7. Histrionic, tidak memiliki rasa harga diri, sering menarik perhatian an mendramatisasi atau memainkan peran agar didengar dan dilihat.8. Menghindar (Avoidant), percaya bahwa dirinya tidak kompeten, tidak menarik, inferior dan terus menerus takut dipermalukan, dikritik atau ditolak9. Narsistik, memiliki perasaan ekstrim mengenai kepentingan diri sendiri, tidak memiliki empati, serta siap berbohong dan mengekploitasi orang lain demi mencapai tujuannya10. Anankastik, teliti berlebihan pada rincian, aturan, daftar, urutan organisasi atau jadwal dan termasuk kategori perfeksionis ekstrim.

Kondisi di tahun ini menuntut kita untuk dapat beradaptasi secara cepat dan tanggap dalam menyikapi perubahan-perubahan. Di tengah usaha kita untuk tetap beraktivitas juga menjaga agar tubuh tetap fit maka harus diimbangi dengan kondisi mental yang baik pula. Berikut ada beberapa tips meningkatkan kesehatan mental dalam menghadapi proses adaptasi.• Ceritakan apa yang kamu rasakan• Bangun hubungan baik dengan banyak orang• Menjaga kesehatan fisik, • Lakukan hal yang disukai, luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai, karena dapat meningkatkan kenyamanan diri dan tentunya membuat mood baik• Give (memberi), membantu orang lain dan hal-hal sosial lainnya akan memberikan dampak positif juga untuk diri sendiri• Buat tantangan tersendiri, buat tantangan-tantangan yang memang realistis untuk dapat diraih yang tentunya memiliki dampak positif bagi diri sendiri• Relax, ditengah kesibukan yang dihadapi, jangan lupa untuk luangkan waktu bagi jiwa dan raga untuk beristirahat. Hal ini dapat memenejemen stress yang ada• Kenali moodbooster, dengan mengenali moodbooster harapannya akan lebih mudah beradaptasi di situasi yang kurang bersahabat• Belajar untuk menerima diri sendiri, kita terlahir bukanlah sebagai sosok yang sempurna, jangan terlalu menekan dan menuntut diri terlalu berlebihan. Mulai untuk tida membandingkan diri dengan orang lain yang dapat membawa dampak negatif pada diri sendiri dan jangan terlalu menuntut kesempurnaan. Be love yourself.