Galakkan Bangun Jamban untuk Kendal Bebas Buang Air Besar Sembarangan

0
760

Pemkab Kendal menargetkan di tahun 2017 ini, menjadi Kabupaten Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BBABS).Tentunya untuk mewujudkan target ini harus kerja keras yang didukung semua pihak, baik Pemkab Kendal, pihak kecamatan, desa dan swasta. Pasalnya hingga Maret 2017 ini masih ada 61.793 kepala keluarga di Kab Kendal yang belum memiliki akses buang air besar atau jamban.

Kepala Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Baperlitbang) Kendal Winarno mengatakan, upaya untuk mewujudkan Kabupaten Kendal  Bebas Buang Air Besar Sembarangan akan dimulai dari desa-deaa dan kelurahan. Pasalnya, dari 286 desa dan kelurahan di Kab Kendal, saat ini baru 40 desa/kelurahan yang sudah resmi dinyatakan Desa Bebas Buang Air Besar Sembarangan. “Upaya ini juga untuk mewujudkan Kabupaten Tanpa Kumuh yang salah satunya adalah masalah akses buang air besar harus bisa diselesaikan,”kata Winarno.

Kabid Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kab Kendal, Sri Handoyo mengatakan, untuk mencapai target sebagaimana komitmen Bupati Kendal, pihak Pemkab sudah membentuk Tim Penyelenggaraan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Tim ini terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, kecamatan, desa-kelurahan dan masyarakat. Tim ini akan bekerja maksimal yang dimulai dengan pendataan atau verifikasi di desa/kelurahan yang belum dinyatakan BBABS. “Dengan kerja tim yang maksimal dan didukung semua pihak, maka target tahun ini bisa tercapai. “Target nasional bebas buang air besar sembarangan sebenarnya di tahun 2019, tapi Bupati menginginkan tahun 2017 sudah bisa tercapai,”kata Sri Handoyo di ruang kerjanya, Rabu (22/3/2017).

Sri Handoyo mengatakan, agar program ini bisa tercapai, akan menggandeng pihak lain, seperti perusahaan dengan CSR-nya, pihak perbankan dengan pemberian kredit tanpa bunga untuk membangun jamban. Selain itu, juga melakukan penyadaran kepada masyarakat agar tidak buang air sembarangan, sebab, faktor penghambat di antaranya dari masyarakat sendiri yang belum memiliki kesadaran. “Sebenarnya banyak mampu membuat jamban, tapi merasa  nyaman ke sungai, sehingga enggan membuat jamban,”katanya.