Hebat! Warga Sukodono Kabupaten Kendal Ini Produksi Sepatu Kulit

0
854

Bagi Anda yang memiliki ukuran telapak kaki terlalu besar atau terlalu kecil, pasti sulit untuk menemukan sepatu yang nyaman dipakai, terlebih bahan kulit asli. Oleh karena itu, sebagian orang memilih memesan sepatu kulit di industri rumahan. Selain bisa mendapat ukuran yang pas, Anda juga bisa me-request model dan warna sesuai keinginan Anda.

Tak perlu jauh-jauh mencari sepatu kulit hingga ke Cibaduyut, Bandung, maupun Surabaya yang terkenal dengan industri fashion-nya. Pasalnya, kini sepatu berbahan kulit tersebut sudah diproduksi di Kendal. Adalah Sutikno, pengrajin sepatu kulit dari Dukuh Singopadu, RT 10 RW 03, Desa Sukodono, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal.

Meski produk lokal, kualitas sepatu yang diproduksi Sutikno dengan merk Yuwica tersebut tak kalah bagus dari produk serupa yang sudah terkenal. Ia mengaku tak sembarangan dalam memilih bahan baku. Bahkan ia memesan langsung material kulit sapi dari suatu pabrik di Surabaya.

Sutikno hanya membuat sepatu jika ada pesanan dari pelanggan. Tentu pesanan datang tiada henti, baik dari perorangan maupun instansi seperti Akademi Keperawatan (Akper), Unissula, Pemprov, dan dari pasukan pengibar bendera. Selain itu, jika ada waktu luang, ia mengaku membuat tiga hingga lima pasang sepatu untuk dipajang di etalase. Tak hanya sepatu, ia juga memproduksi sandal baik untuk pria maupun wanita.

“Yang sudah pernah pesan sekali pasti ke sini lagi. Tidak pernah ada yang request kulit apa, karena mereka sudah tahu standar saya. Tinggal menyebutkan model dan warna. Semua ukuran pelanggan tercatat dalam buku. Kalau baru pertama ke sini baru diukur dulu,” kata Sutikno saat ditemui di rumahnya pada Selasa (04/02/2020).

Sutikno mengaku tahapan paling sulit dalam membuat sepatu adalah menggambar pola. Jika pola sudah terbentuk, ia bisa menyelesaikan sepasang sepatu dalam satu hari. Ada dua tahap, pertama membuat pola lalu dibentuk upper-nya atau cup bagian atas. Kedua, mengesol dengan alas yang menjadikannya sepatu. Untuk sekarang ini, ia dibantu kedua anak laki-lakinya yang juga mahir membuat sepatu.

Tak mau meninggalkan sejarah saat merintis 30 tahun lalu, ia masih menerima permintaan reparasi sepatu. Suka duka tentu pernah dirasakan Sutikno. Mulai dari permintaan pelanggan untuk menyelesaikan pesanan dalam waktu singkat hingga pesanan yang tidak diambil. Meski begitu, ia tak ambil pusing. Tinggal dipajang di etalase dan menyerahkan rezeki kepada Yang Mahakuasa.

Sutikno meematok harga sepatu yang ia produksi sesuai bahan yang dihabiskan. Harga akan dikurangi jika Anda memesan dalam partai besar. Jika penasaran, Anda bisa datang langsung ke rumahnya. Jembatan merah Sukodono, rumah berwarna merah muda, Pak Tikno sepatu, semua orang pasti tahu.

Ananda/UNS