Inilah Kisah Muzawir, Perajin Tahu di tengah Kondisi Pandemi Covid-19

Inilah Kisah Muzawir, Perajin Tahu di tengah Kondisi Pandemi Covid-19

0
52

Swarakendal.com : Dampak pandemi Covid-19 yang sudah menginjak tahun kedua masih dirasakan para pelaku usaha. Tak terkecuali para perajin tahu, seperti yang dialami Muzawir (40), perajin tahu di Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal.
Pandemi yang bersifat global, membuat harga kedelai, yang merupakan bahan pokok tahu ini melambung tinggi, dari semula Rp. 7.500  menjadi Rp  11.000 per kilogram. Naiknya harga kedelai ini membuat para perajin tahu kelimpungan, karena tidak serta merta ikut menaikan harga tahu di tengah kondisi yang sulit akibat pandemi.


Bagi Muzawir yang paling dipikirkan adalah agar usaha produksi tahunnya tetap betahan untuk keberlangsungan keluarga dan 18 karyawannya. Jangan sampai ada satu pun karyawan diberhentikan. Menurunnya daya beli masyarakat, otomatis mengurangi produksi tahu, dari 40 – 50 drum per hari menjadi 35 – 45 per hari. “Memang ada pengurangan produksi, cuman kami memenej sedemikian rupa, karena kami secara pribadi maupun secara kekeluargaan bertanggung jawab masalah ekonomi yang ada pada karyawan kami, jadi tidak ada pengurangan karyawan,” ujarnya. 

Muzawir menjelaskan, dampak pandemi Covid-19, hingga ada kebijakan PPKM Darurat yang diperpanjang PPKM Level 4 membuat produksinya mengalami penurunan. Saat ini ia hanya bisa mengolah kedelai sekitar 4 – 5 kuintal per hari, padahal ketika kondisi normal rata-rata 6 -7 kuintal per hari atau mengalami penurunan sekitar 30-35 persen dari jumlah produksi sebelum pandemi. Hal itu karena adanya penurunan permintaan, yang semula 40 – 50 drum per hari, menurun menjadi 35 – 45 per hari dengan ukuran yang lebih kecil. “Sebelum Covid ada, kami membuat tahu dengan ukuran 14 kilogram per tong, kemudian karena kondisi sulit akibat pandemi, dikurangi menjadi 12 kilo per tong, dan juga mengurangi ukuran tahu,” katanya.  

Katanya, pengurangan ukuran itu dilakukan untuk menyiasati usahanya agar tidak rugi. Selain itu juga sedikit menaikan harga tahu, yang semula Rp. 155 ribu per drum, naik menjadi 180 ribu. “Karena jika tidak ada pengurangan ukuran ya minusnya luar biasa, siapa pun tidak mampu,” jelasnya.


Muzawir pun memberikan pengertian kepada karyawan mengingat kondisi yang masih sulit. Demikian pula kepada para bakul pelanggan agar bisa memaklumi karena harga kedelai yang melonjak, “Intinya, baik perajin, konsumen dan karyawan melakukan komunikasi dengan baik, supaya semua bisa bertahan, meski hasilnya sedikit, karena masih bisa berjalan ini sudah luar biasa,” ujarnya.

Ia yang sudah belasan tahun menekuni usaha pembuatan tahu di kampungnya berharap, pandemi dan PPKM segera berakhir, bisa hidup normal kembali seperti biasa. Ia mengajak kepada masyarakat untuk bersama-sama dengan pemerintah berikhtiar supaya kehidupan bisa normal kembali seperti biasa. “Kami berharap agar kehidupan bisa normal kembali seperti biasa,” harapnya.