LIMA BUILDING BLOCKS UNTUK KOMUNIKASI PUBLIK

0
464

Sudah jamak diketahui bahwa dunia berada dalam sebuah kondisi yang dinamakan VUCA. Vuca merupakan akronim dari Votality, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity. Istilah yang diperkenalkan oleh US Army War Collage kala itu untuk menggambarkan kondisi geopolitik di Afganistan dan Irak setelah perang dingin yang penuh ketidakpastian. Saat ini kemajuan teknologi ditengarai menjadi pencetus situasi VUCA. Terlebih dengan adanya pandemi COVID-19 yang tengah melanda hingga saat ini.

Tantangan Komunikasi

Situasi VUCA memiliki ketidak pastian yang tinggi, perubahan terjadi sangat cepat, penuh dengan dinamika yang terkadang sangat sulit untuk diprediksi. Perubahan di seluruh lini terjadi dengan sangat massif. Pada bidang komunikasi keran informasi menjadi sangat terbuka. Para ahli menyebutnya sebagai hyper information, yakni sebuah kondisi dimana informasi yang beredar sudah menjadi tak terhitung dan overload. Hal ini mengakibatkan banyak terjadi bias informasi di masyarakat.

Perubahan situasi yang drastis dalam waktu singkat, ditambah dengan derasnya arus informasi, serta carut marut informasi yang cukup tinggi perlu disikapi dengan baik. Komunikasi berbasis data yang relevan dan valid belum tentu menjadi informasi yang diyakini publik. Skema komunikasi dengan pola-pola tradisional dan parsial rentan untuk gagal mencapai tujuan yang diinginkan.

Lima Building Blocks

Global Alliance for Public Relations and Communication Management beserta Corporate excellent- Center for Reputation Leadership melihat bahwa saat ini dunia tengah berada di era baru baik itu ekonomi dan sosial yang disebut dengan economy of reputation dan intangible assets. Reputasi menjadi sangat penting, dan nilai dari perusahaan menjadi aset tidak terlihat yang sangat berharga.  Terlebih pada saat era baru paska pandemic COVID-19..

Untuk merespon kondisi tersebut, maka disusnlah sebuah model komunikasi yang diharapkan mampu membantu para profesional dalam mencapai tujuan mereka yang paling penting dan relevan yakni, diferensiasi, reputasi yang solid dan mengkonsolidasikan kepercayaan dengan para stakeholdersnya. Model komunikasi yang disebut The Global PR & Communication model ini merupakan sebuah roadmap yang terdiri dari 5 Building blocks yang mampu menghasilkan dan memproteksi nilai dalam dunia saat ini. 

Lima building blokcs ini terdiri dari  tujuan organisasi, brand dan budaya, reputasi dan komunikasi resiko reputasi, kecerdasan yang saling terhubung dan juga pengukuran aset yang tidak terlihat. Dengan melaukan manajemen yang baik di setiap bloknya, maka akan memungkinkan organisasi untuk menghasilkan diferensiasi yang berumur panjang, keterikatan, koneksi yang otentik, serta kepercayaan dan legitimasi sosial. Dalam model ini dijelaskan bahwa dalam sebuah manajemen komunikasi, seorang publik relations harus memiliki andil dalam setiap levelnya untuk membangun strategi komunikasi yang terintegrasi agar  sejalan dengan tujuan organisasi.

Profesional kehumasan sektor publik seharusnya sudah mulai terlibat pada saat ditentukan tujuan organisasi tersebut. Hal ini merupakan fundamental praktisi kehumasan untuk menuju pada level selanjutnya yakni membentuk aliansi dengan stakeholders untuk menyeleraskan nilai-nilai organisasi. Kemudian dilanjutkan dengan manajemen reputasi organisasi dengan mengukur dan mengelola reputasi. Reputasi harus dipahami sebagai sebuah tindakan yang berkesinambungan yang relevan dengan perilaku organisasi untuk memenuhi harapan stakeholders.

Fase selanjutnya adalah proses implemantasi dan penyususnan desain narasi. Narasi yang dibangun konsisten dan koheren, menggunakan berbagai saluran dan media yang sesuai dengan stakeholders. Pada Fase kelima profesional kehumasan harus membangun sebuah sistem solid canggih untuk melakukan pengukuran yang sejalan dengan peran humas dan komunikasi dalam konteks kekinian dan melakukan Analisa tren dan pelacakan secara berkelanjutan terhadap perubahan ekspektasi sebagai sumberdaya dalam pengambilan keputusan.

Komunikasi dan Kebijakan Publik

Sebuah Kebijakan tentunya tidak berdiri sendiri di ruang hampa. Ada banyak stakeholders yang terlibat dalam lahirnya sebuah kebijakan. Banyak gagasan, ide, kepentingan dan nilai yang saling bertarung dalam lahirnya suatu kebijakan. Komunikasi memegang peranan penting, baik pada saat formulasi kebijakan, maupun pada saat implementasi kebijakan itu sendiri. UU Cipta karya patut menjadi pelajaran berharga bagi organisasi publik dalam melakukan komunikasi publik. Proses komunikasi harus mendapat perhatian yang strategis sejak saat kebijakan tersebut diformulasikan.

Menilik kondisi tersebut, The Global PR & Communication model menjadi relevan untuk kita adopsi dalam manajemen komunikasi sektor publik kekinian, disamping tentunya mempedomani Perpres No 9/2015 tentang pengelolaan Komunikasi Publik. Manajemen Komunikasi sektor publik harus dilakukan secara holistik, bukan sekedar packaging pemanis dalam dialog antara organisasi dengan publik.

Strategi komunikasi yang dilakukan dalam rangka mengkomunikasikan kebijakan publik harus dilaksanakan dengan seksama, selaras dengan tujuan yang ingin dicapai serta terarah dan terukur. Memperhatikan faktor-faktor resiko yang mungkin timbul serta menyiapkan alternatif solusi. Serta mencermati perubahan tren dan analisa yang mendalam terhadap harapan publik yang terdampak kebijakan publik secara konsisten dan berkesinambungan.

Keseluruhan fase ini akan sangat penting dalam membentuk persepsi publik terhadap reputasi organisasi publik. Hal ini untuk membangun engagemnet, koneksi yang otentik, serta kepercayaan dan legitimasi dari seluruh stakeholders.

Hal ini dikarenakan kinerja organisasi pemerintah tidak bisa lepas dari dukungan stakeholders. Keterlibatan secara tulus dan kepercayaan publik merupakan fundamental dari stabilitas yang diperlukan dalam keberhasilan implementasi kebijakan dan program pemerintah. Oleh karena itu manajemen komunikasi yang holistik dan terarah sangat diperlukan dalam sebuah organisasi publik.

Niken Hapsari

Pranata Humas Ahli Muda LAN