Mahasiswa KKN Ajak Milenial Sadar Gender Equality melalui Webinar Kesetaraan Gender

Mahasiswa KKN Ajak Milenial Sadar Gender Equality melalui Webinar Kesetaraan Gender

0
154

Swarakendal.com : Menuju kesetaraan gender memang tidaklah mudah, mengingat masih banyaknya anggapan masyarakat mengenai perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan yang menempatkan posisi perempuan berada jauh dibawah laki-laki. Perempuan dipandang sebagai sosok yang lemah, sedangkan laki-laki adalah kebalikannya. Alhasil, tak jarang ketidakadilan berpihak pada perempuan sebagai akibat dari adanya ketidaksetaraan gender yang dikonstruksikan masyarakat. 

Berangkat dari itulah mahasiswa KKN dari 2 kampus ternama di kota Semarang yaitu mahasiswa KKN TIM II Universitas Diponegoro Semarang dan mahasiswa KKN Kelompok 29 MITDR UIN Walisongo Semarang berkolaborasi untuk menyajikan satu sarana dan media berdiskusi yang mengangkat tema apik mengenai kesetaraan gender melalui webinar.

Muhammad Erwin Abdullah, selaku ketua pelaksana kegiatan mengatakan, kegiatan ini menjadi sarana berdiskusi mengenai kesetaraan gender bagi milenial. “Semoga nanti banyak milenial yang semakin sadar akan pentingnya gender equality, terlebih di era milenial ini” katanya.

Kegiatan webinar mengenai kesetaraan gender ini mengusung tema “Merubah Stereotype Diskriminasi Gender menjadi kesetaraan Gender di Masyarakat” dilakukan pada 25 Juli 2021 melalui media zoom, telah sukses membangkitkan semangat milenial terutama perempuan untuk sedikit lebih berani bersuara dari sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme lebih dari 70 peserta secara nasional dari beragam wilayah seperti Batam, Batang, Kendal, Semarang, Kudus, dan sebagainya.


Dalam pembukaan webinar, Psikolog Lucky Ade Sessiani menuturkan, bahwasanya pembahasan mengenai gender dan kesetaraan gender adalah topik yang menarik dan akan terus relevan dengan perkembangan jaman.

Riesma Laylinisa mahasiswa KKN TIM II Undip 2021 yang juga sedang menjabat sebagai Duta GenRe Kendal 2021 menekankan pada generasi milenial agar tidak begitu kaku terhadap makna gender yang dibentuk oleh konstruksi sosial masyarakat. Riesma juga mengkritisi bagaimana kehidupan masyarakat pedesaan dan perkotaan turut serta memberikan pemahaman terhadap pemahaman gender di masyarakat. “Perempuan harus berani tampil dan berkontribusi bagi masyarakat, sebab perempuan dan laki-laki sama-sama punya tanggung jawab dalam melakukan perubahan yang terbaik bagi kehidupan.

Demikian pula pemateri Anthin Lathifah tak kalah kritis juga untuk mengkritisi bagaimana kesenjangan gender terjadi di masyarakat. Besar harapan dari kegiatan webinar ini mampu memberikan satu warna yang berbeda tentang bagaimana milenial bersikap terhadap pemaknaan gender yang sesungguhnya.