Mengenal Usaha Rengginang Sukses Sejak Tahun 90an di Kecamatan Plantungan

0
467

Rengginang merupakan makanan olahan yang umumnya berbahan dasar ketan, namun ada juga jenis rengginang yang bahan utamanya adalah kerak nasi atau singkong, tentunya berbedanya bahan dasar yang dipakai menghasilkan rasa rengginang yang berbeda pula. Meskipun terkesan makanan ringan jadul, namun rengginang masih memiliki banyak peminat, dan justru jadi cemilan yang sering dirindukan di zaman sekarang. Biasanya rengginang dapat ditemukan di acara hajatan atau acara pernikahan, rasanya yang gurih dan krispi sangat cocok dinikmati dengan teh atau kopi hangat.

Di  desa Manggungmangu kecamatan Plantungan kabupaten Kendal, terdapat pegiat usaha industri rengginang rumahan yang telah berdiri sejak tahun 90an. Pemilik usaha tersebut bernama Siti Khasanah, dan merupakan generasi kedua setelah Ibu Hajah Supiah, meskipun telah berdiri sejak tahun 90an, usaha rengginang Mbak Siti mulai dikenal luas pada sekitar tahun 2000. Pada saat ini Mbak Siti dan keempat karyawannya dapat memproduksi 40 kg rengginang setiap harinya, dan langsung habis pada hari itu juga. Sistem penjualan rengginang Mbak Siti ini adalah melalui pemesanan yang bisa dilakukan melalui via whatsapp , via telpon atau secara langsung dengan mengunjungi langsung ke lokasi produksi. Mbak Siti menuturkan bahwa pada saat pendemi ini omset yang didapatkan dari usaha rengginangnya justru meningkat pesat dibandingkan hari biasanya.

Ciri khas rasa yang membuat rengginang Mbak Siti lain dari yang lain adalah penggunaan bahan ketan super pilihan, bumbu yang mantap dan tekstur rengginang yang lebih mekar serta krispi, Mbak Siti juga hanya menggunakan ketan pilihan dengan mutu baik, ketan yang sudah dibeli untuk bahan rengginang pun diayak terlebih dahulu agar terpisahkan butiran ketan yang berukuran kecil dan besar. Lalu butiran ketan yang berukuran besarlah yang nantinya diolah menjadi rengginang, sedangkan butiran ketan yang kecil akan dikirimkan ke tempat usaha lain untuk dijadikan bahan dasar wajik, dodol dan jenang. Proses pembuatan rengginang Mbak Siti tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan rengginang pada umunya, yang membuat berbeda adalah terletak pada kualitas bahannya tadi. Mbak Siti membuat rengginang dengan beberapa varian rasa, yaitu rasa gula aren jawa, rasa asin gurih dan rasa bawang. Namun Mbak Siti juga bersedia membuat varian rasa lain sesuai permintaan dari pemesan, seperti rasa balado, sambal trasi, rebon, dan jagung manis. Untuk ukuran rengginangnya disesuaikan dengan pesanan, sejauh ini Mbak Siti memproduksi rengginang dengan ukuran besar, sedang, kecil dan jumput. Harga 1 kilogram rengginang yang belum digoreng adalah 30.000 , khusus untu varian rasa gula aren jawa harganya 38.000 perkilogram, dan untuk yang sudah digoreng dibandrol dengan harga 45.000 perkilogramnya.

Mbak Siti tidak melakukan promosi secara khusus untuk mengenalkan produknya secara lebih luas, menurut Mbak Siti rengginangnya dapat dikenal luas dari mulut ke mulut konsumennya yang sudah merasakan kenikmatan rasa rengginangnya yang lain dari yang lain. Namun setiap ada kesempatan bazar atau pameran jajanan UMKM di kabupaten atau kecamatan, pemerintah desa setempat membantu mengenalkan produk rengginang Mbak Siti sebagai ciri khas desa Manggungmangu. Pemesan rengginang Mbak Siti paling jauh berasal dari Dieng, untuk daerah lainnya yang sering memesan dan dijual kembali adalah Plantungan, Sukorejo, Bawang dan Kreco. Mbak Siti menuturkan kalau rengginangnya sudah sampai luar negri seperti Taiwan dan Singapore, tapi bukan dipesan oleh warga sana langsung, melainkan dibawa oleh warga setempat yang bekerja disana.

Kendala selama memproduksi rengginang adalah ketika musim hujan, pasalnya rengginang yang biasanya cukup dijemur tiga hari saja ketika cuaca panas, bisa dijemur sampai empat hari lamanya saat musim hujan, bahkan kadang empat hari saja tidak cukup dan masih dibantu dengan diletakkan di atas tungku supaya cepat kering. Tidak hanya itu, label atau merk produk rengginang Mbak Siti yang belum di buat juga disalahgunakan oleh oknum sesama penjual rengginang yang tidak bertanggung jawab, para oknum mempromosikan produk mereka kepada pembeli atas nama rengginang Hajah Supiyah, yang merupakan pelopor rengginang yang sekarang dikelola Mbak Siti tersebut. Sampai saat ini usaha rengginang Mbak Siti belum mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat, namun pemerintah desa Manggungmangu setempat sudah mulai mengusahakan untuk menjadikan usaha Mbak Siti sebagai Bumdes dan oleh-oleh ciri khas desa Manggungmangu. Salah seorang perangkat desa setempat juga menuturkan kalau kedepannya akan diusahakan mesin pengering untuk usaha rengginang Mbak Siti , agar produksi di musim hujan tetap berjalan lancar. Mbak Siti juga berharap akan segera dibuatkan label dan dipatenkan , agar tidak ada oknum  tidak bertanggungjawab yang mengatasnamakan usaha Mbak Siti untu mempromosikan produknya.

Tsania Ariffani / Universitas Amikom Yogyakarta