Para Petani di Kendal Kekurangan Pupuk Bersubsidi

Para Petani di Kendal Kekurangan Pupuk Bersubsidi

0
216

Para petani di Kabupaten Kendal saat mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. Pasalnya, pasokan pupuk bersubsidi bagi petani di Kabupaten Kendal sudah habis. Kondisi tersebut menyebabkan puluhan ribu petani di Kendal kelimpungan dan mereka terancam mengalami gagal panen. 

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kendal, Tardi, mengatakan, gejolak yang terjadi karena pupuk bersubsidi habis menyebabkan petani kesulitan mencari pupuk. Hal itu karena kebutuhan pupuk tidak seimbang dengan alokasi yang disiapkan pemerintah. “Kebutuhan pupuk para petani lebih banyak bila dibanding dengan pasokan yang diberikan pemerintah. Ada pupuk non subsidi, tetapi harganya lebih mahal,’’ katanya, Rabu (8/7/2020). 

Dia mencontohkan pupuk urea kebutuhan berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) 33.189 ton. Namun pada 2020 hanya dipasok 20.700 ton. Jumlah itu bila dibanding 2019 mengalami penurunan 4.050 ton. Demikian pula pupuk jenis SP-36 dari kebutuhan 13.218 ton hanya mendapat 3.013 ton. Pupuk ZA dari kebutuhan 12.654 ton disediakan oleh pemerintah hanya 4.929 ton, pupuk organik dari 17.792 ton dipasok 5.300 ton, dan NPK dari 28.172 ton dipasok 14.590 ton. “Pemerintah pusat harus ikut memikirkan nasib petani. Saat ini Indonesia sedang dilanda pandemi virus korona, tetapi jangan hanya memikirkan soal korona. Kementerian Pertanian harus memikirkan  nasib petani,’’ tuturnya. 

Dia mengatakan, jika petani kesulitan mendapatkan pupuk, program pemerintah untuk meningkatkan produksi hasil pertanian terancam tidak sesuai harapan. Apalagi untuk menuju swasembada pangan, tentunya akan lebih sulit tercapai. “Luas lahan pertanian di Kendal mencapai 121.126,12 hektar dengan jumlah petani penerima pupuk bersubsidi 73.293 petani,” kata dia. 

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, mengatakan, pemerintah tentu telah mempertimbangkan kebutuhan pupuk untuk petani. Namun, praktiknya di lapangan, petani kerap menambah standar pupuknya. Kondisi tersebut kerap menyebabkan pasokan pupuk menipis. “Kami sudah mengajukan tambahan alokasi pupuk kepada Kementerian Pertanian yang terdiri atas urea 4.500 ton, SP-36 2.050 ton, ZA 1925 ton, dan NPK 500 ton,’’ tuturnya.