Pemilik Kedai Pisang Bener: Pensiun Tak Jadi Alasan untuk Berhenti Berkegiatan

0
687

Bagi sebagian orang, pensiun atau purna tugas tentu sangat dinanti sehingga mereka bisa menghabiskan waktu dengan keluarga sepuasnya. Namun tidak dengan Heri Warsito, pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang membuka kedai pisang goreng di sekitar kawasan Pasar Kendal, tepatnya di deretan bangunan belakang Sama-Sama.

Bermula dari keinginan untuk mengisi kekosongan pasca pensiun, Pak Heri mempunyai ide untuk membuka usaha yang minim resiko dengan modal kecil, tapi bisa berjalan secara lancar. Akhirnya pilihan jatuh kepada usaha kuliner, yaitu pisang goreng. Menurutnya, selama ini orang hanya membeli pisang goreng di warung atau di pinggir jalan. Makanan dengan cita rasa Indonesia tersebut harus diangkat ke permukaan. Oleh sebab itu, ia meramu pisang goreng dengan ciri khas kekinian, yaitu kremes. Ia survei ke beberapa tempat, memang jarang toko atau kedai yang khusus menjual pisang goreng. Untuk bahan baku, Pak Heri juga memilih pisang yang jarang digunakan untuk bahan pisang goreng.

“Kalau di Jawa Tengah ini saya belum bernah tahu ada orang jualan pisang goreng dengan bahan baku pisang tanduk, biasanya pisang kepok. Kalau saya lihat di internet, di daerah Sukabumi, Jakarta, Bogor, itu sudah mulai pakai pisang tanduk, ternyata ramai. Nah kenapa nggak saya coba begitu,” tuturnya.

Ia memperoleh bahan baku pisang baik tanduk maupun kepok di daerah Batang. Menurutnya, kualitas pisang di Batang lebih bagus daripada Kendal, ukuran pun lebih besar dengan harga lebih murah. Pada awal membuka usaha, Pak Heri mengaku membeli bahan baku pisang di Batang satu pekan sekali. Namun sekarang pisang setengah pick up habis hanya dalam waktu tiga hari.

Pak Heri menyewa toko di belakang Sama-Sama awal Oktober tahun lalu. Awalnya ia menitipkan pisang goreng tersebut ke lapak keponakannya yang juga berada di kawasan yang sama. Ternyata racikan Pak Heri cukup diminati dan familiar di lidah masyarakat Kendal. Setengah sampai dua sisir pisang yang ia buat dan titipkan, ternyata laku keras. Hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk membuka kedai pisang goreng pada tanggal 3 Januari 2020 dengan nama Pisang Bener.

“Dapat ide nama Pisang Bener dari teman saya yang mlenial. Ada yang bilang raja pisang krispi, pisang kremes, dan sebagainya. Tapi ada teman yang aneh, bilang pakai nama Pisang Bener. Kemudian banyak yang tanya, ini pisangnya Pak Heri bener nggak sih, terus yang nggak bener itu kayak apa. Dan itu membuat orang penasaran. Kalau saya lihat satu hari itu yang pernah makan pisang goreng saya paling lima puluh persen. Yang lima puluh persen lagi baru pertama beli,” katanya.

Pembeli Pisang Bener ini berasal dari mana saja, mulai dari Kaliwungu, Ngampel, Pegandon, hingga Weleri. Kebayakan orang membeli untuk sajian rumah tangga. Pak Heri mengaku ingin menarget generasi milenial dengan menambah topping dan kerjasama dengan layanan pesan antar secara online. Namun sementara ini belum bisa terlaksana lantaran kekurangan tenaga.

“Membuat pisang goreng membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Karena prosesnya kan pisang harus kita siapkan dulu, kemudian adonannya bikin di sana. Kalau bikin di rumah ndak enak, harus fresh. Bikin adonan itu tidak bisa sekalian banyak, biasanya satu kilo, maksimal dua kilo itu juga kurang bagus. Terus nggorengnya itu bisa 10-15 menit. Jadi prosesnya lama. Nah itu saja yang menunggu banyak,” ujarnya.

Pensiun tak membuat Pak Heri berhenti berkegiatan. Menurutnya, lebih bagus tangan di atas daripada tangan di bawah, dan manusia harus terus berikhtiar untuk mencapai tangan di atas.(Ananda/UNS)