Pencak Silat dan Marching Band Santri Ramaikan Peringatan Hari Santri Nasional di Alun-alun Kendal

Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kab Kendal di Alun-alun Kendal

0
682
Ratusan santri perwakilan dari pondok pesantren di Kabupaten Kendal mengukuti Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-alun Kendal, Selasa (22/10/2019) pagi. Usai upacara diramaikan dengan atraksi pencak silat dari perguruan pencak silat Harimau Putih dari ponpes Hidayatul Quran Kaliwungu. Selain itu juga penampilan marching band dari santri ponpes Azzahro Pegandon. Upacara dihadiri Bupati Kendal Mirna Annisa, wakil bupati dan Forkopimda, pejabat Pemkab Kendal dan para ulama.

Bupati Kendal Mirna Annisa dalam sambutannya mengatakan, bahwa pengakuan terhadap kiprah urama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad memuat seruan-seruan penting yang memungkinkan lndonesia tetap bertahan serta berdaulat sebagai negara.
“Ruh dari Hari santri adalah cinta Tanah Air. lslam mengajarkan cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman,’’ katanya.
Dikatakan, bahwa cinta Tanah Air untuk saat ini bukan membela negara melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan kebodohan melalui pendidikan, kemiskinan melalui ekonomi atau UMKM, dan ideologi melalui penyadaran terhadap radikalisme, komunisme, terorisme, dan atheisme yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI, serta melawan narkoba.
Oleh karena itu, momentum Hari Santri Nasional dijadikan sebagai sebagai tonggak bersatu. “Jangan sekali-kali terpecah belah, karena perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang jaman. Mari songsong kehidupan yang lebih baik untuk semua,’’ tambahnya.
Hari Santri Nasional merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Hari Santri Tahun ini merupakan momentum untuk mempertegas peran santri sebagai pioner perdamaian yang berorientasi pada spirit moderasi lslam di Indonesia.
Karakter kalangan pesantren yang moderat, toleran, dan komitmen cinta tanah air, diharapkan bisa semakin vokal untuk menyuarakan dan memberikan contoh hidup damai serta menekan lahirnya konflik di tengah-tengah keberagaman masyarakat.
“Tidak ada santri kalau tidak ada kiai dan begitu sebaliknya. Mari tebarkan kedamaian, kapanpun, dimanapun, kepada siapapun. Sesuai dengan tema peringatan Hari Santri Nasional tahun ini adalah ’Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia,” ucapnya.