Peringatan Hari Gizi Nasional ke-60: Gizi Optimal untuk Generasi Milenial

0
784

Peringatan Hari Gizi Nasional yang ke-60 pada tanggal 25 Januari tahun ini mengusung tema “Gizi Optimal untuk Generasi Milenial”. Arti milenial disempitkan atau difokuskan pada usia remaja. Dilansir dari lipi.go.id, pada dekade 2020-2030 Indonesia akan mengalami windows of opportunity atau jendela kesempatan, kondisi di mana jumlah penduduk yang berusia produktif (15-64 tahun) meningkat sedangkan jumlah usia yang tidak produktif (0-14 tahun dan 64+) menurun.

Nah, mengapa generasi milenial membutuhkan gizi yang optimal? Pertama, masa remaja adalah masa peralihan atau transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Artinya, kualitas hidup pada masa remaja menentukan kualitas hidup saat menjadi individu dewasa dan juga dalam menghasilkan generasi selanjutnya. Kedua, remaja adalah generasi penerus bangsa yang akan menentukan kemajuan bangsa di masa mendatang. Terlebih lagi jumlah penduduk remaja yang berusia 10-24 tahun di Indonesia mencapai 66,3 juta jiwa dari total penduduk sebesar 270 juta atau sebesar 24,65%. Artinya, satu di antara empat penduduk Indonesia adalah remaja (data BKKBN pada tahun 2019).

Jumlah remaja Indonesia yang demikian besar ini dapat menjadi aset bagi bangsa apabila dipersiapkan dengan maksimal. Indonesia membutuhkan remaja yang produktif, kreatif, dan kritis sehingga kelak produktivitasnya akan optimal. Tentu hal ini mustahil dapat terwujud apabila remaja kita tidak sehat dan status gizinya tidak baik. Untuk itulah pada kesempatan HGN ke-60 ini, Kementerian Kesehatan mengajak generasi milenial untuk mulai sadar gizi paling tidak untuk dirinya sendiri.

Gizi yang baik adalah gizi yang cukup baik dari segi makro seperti karbohidrat, lemak, protein, maupun mikro seperti vitamin dan mineral. Dengan demikian, masyarakat akan terbebas dari kekurangan gizi yang mengakibatkan kekurusan, kelebihan gizi yang mengakibatkan kegemukan, dan juga bebas dari defisiensi atau kekurangan vitamin dan mineral tertentu. Menurut ahli gizi RSUD dr. H. Soewondo Kendal, Anggit, saat ini Indonesia mempunyai 3 beban masalah gizi (triple burden) yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan obesitas (kegemukan), serta kekurangan zat gizi mikro (yaitu zat besi) seperti anemia. Penyelesaian masalah-masalah ini penting untuk melibatkan peran aktif dari generasi milenial.
Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan:
– 25% remaja usia 13-15 tahun (seusia anak SMP) dan 26,9% remaja usia 16-18 tahun (seusia anak SMA) memiliki status gizi pendek dan sangat pendek.
– 8,7% remaja usia 13-15 tahun dan 8,1% remaja usia 16-18 tahun memiliki status gizi kurus dan sangat kurus.
– 16% remaja usia 13-15 tahun dan 13,5% remaja usia 16-18 tahun memiliki status gizi obesitas.

Maulida yang juga seorang ahli gizi di RSUD dr. H. Soewondo Kendal mengatakan bahwa permasalahan gizi yang tidak segera diatasi akan berdampak pada kesehatan, antara lain sebagai berikut.
Obesitas
Faktor penyebab obesitas pada generasi milenial bersifat multufaktoral. Peningkatan konsumsi makanan cepat saji (fast food), rendahnya aktivitas fisik, faktor genetik, pengaruh media dan iklan, faktor psikologis, status sosial ekonomi, usia, jenis kelamin, itu semua adalah faktor-faktor yang mengakibatkan perubahan keseimbangan energi dan berujung kepada obesitas. Obesitas bukan hanya masalah kelebihan berat badan, tetapi dapat juga meningkatkan resiko berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, hiperkolesteroliemia, stroke, kanker, gout, sleep apnea, dan masalah reproduksi.

Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi merupakan masalah gizi di dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Anemia memang lebih rentan diderita oleh wanita. Pada tahun 2018, terjadi kenaikan prevalensi kejadian anemia pada wanita kelompok umur 15-24 tahun yaitu sampai 48,9%, dan kemudian diikuti oleh kelompok umur 25-34 tahun. Usia-usia tersebut masuk daam kategori Wanita Usia Subur (WUS). WUS ini terdiri dari remaja dan ibu hamil yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan, terutama dalam upaya mencetak kualitas generasi penerus di masa depan. Selain itu, gejala anemia seperti lemas dan cepat lelah dapat mengganggu produktivits pada generasi milenial.

Apabila anemia tidak ditangani dengan baik, maka akan mengarah kepada progresivitas penyakit yang lebih serius seperti aritmia (gangguan irama jantung) dan gagal jantung. Pada ibu hamil juga dapat mengakibatkan komplikasi kehamilan antara lain melahirkan premature dan bayi terlahir dengan berat badan rendah. Anemia defisiensi zat besi dapat terjadi jika tidak pernah mengonsumsi makanan sumber zat besi seperti sayuran hijau, hati, dan daging merah seperti daging sapi dan kambing.

Kurang Energi Kronik
Kurang Energi Kronik (KEK) adalah masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan makanan dalam waktu yang cukup lama bahkan sampai hitungan tahun. Misalnya pada kasus diet ketat dalam jangka waktu lama karena ingin memiliki tubuh yang terlalu langsing seperti idol K-Pop. Padahal justru sebaliknya, kebutuhan gizi remaja meningkat dibandingkan kebutuhan gizi pada masa kanak-kanak kerena terjadi perubahan fisiologis dan perkembangan organ, serta aktivitas fisik yang bertambah. Kurangnya asupan energi yang berasal dari zat gizi makro dan zat gizi mikro pada wanita usia subur yang berkelanjutan (remaja sampai masa kehamilan) dapat mengakibatkan resiko KEK. Jika hal ini terjadi pada remaja putri sebagai calon ibu hamil tidak diperbaiki, maka bayi yang akan dilahirkan beresiko untuk mengalami stunting. Selain itu, hormon-hormon juga akan terganggu sehingga dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur.

Ahli gizi RSUD dr. H. Soewondo Kendal, Lilil, mengatakan bahwa pada prinsipnya, makanan yang kita konsumsi harus memiliki gizi seimbang di mana ada sumber karbohidrat seperti nasi, kentang, roti tawar, singkong, kemudian sumber protein nabati seperti tahu, tempe, jamur, kacang-kacangan, serta sumber vitamin, mineral, dan serat yang terdapat di buah-buahan dan sayur-sayuran. Selain mengonsumsi makanan bergizi, alangkah baiknya jika kita juga melakukan aktivitas fisik. Tidak perlu aktivitas yang terlalu berat, gerakan ringan seperti jalan kaki dan bersepeda juga sudah cukup asalkan konsisten. Pola hidup sehat seperti ini akan sempurna apabila kita melengkapinya dengan sarapan setiap pagi. Kebiasaan sarapan dengan menu berimbang harus rutin dilakukan remaja agar fokus sehingga bisa lebih produktif dalam berkegiatan.
Mulai sekarang, jadilah generasi milenial yang menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam rangka mewujudkan generasi unggul Indonesia maju. Ayo Jadi Milenial Sadar Gizi!

Ananda/UNS