Peringati 100 Tahun Chairil Anwar, Penyair Basa Basuki Pentas Baca Puisi

Peringati 100 Tahun Chairil Anwar, Penyair Basa Basuki Pentas Baca Puisi

0
71

Swarakendal.com : Basa Basuki, penyair asal Semarang membaca puisi tentang Chairil Anwar di GOR SMAN 1 Kaliwungu Kendal Jawa Tengah, Sabtu (30/07/2022) malam.  Pertunjukan baca puisi  yang diadakan oleh Rumah Sastra Kaliwungu, bekerja sama dengan SMAN 1 Kaliwungu ini untuk memperingati 100 tahun Chairil Anwar. 


Basuki membaca 10 puisi, diawali puisi yang berjudul, Masjid dan mengakhiri dengan puisi yang berjudul Kursi. Diakhir pembacaan Kursi, Basa Basuki, menebas plastik berisi air merah hingga muncrat. Usai pertunjukan dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Shintya dari Balai Bahasa Jawa Tengah, dan Sawali Tuhusetya , sastrawan asal Kendal.


Basa Basuki mengatakan, 10 puisi yang dibaca adalah puisi yang bertema sama dengan puisinya Chairil Anwar, yang situasi dan kondisinya disesuaikan dengan masa saat ini. Judul 10 puisinya adalah Masjid, Kau, Sabar, Mampus, Kamisan, Presidenku Jauh di Pulau, Kesepakatan Dengan Habieb Rizieq, Wermudoro, Yang Terampas dan yang Tertindas dan Kursi. Puisi tersebut merupakan hasil implementasi dari 10 karya Chairil Anwar, berjudul Masjid, Aku, Kesabaran, Sia-sia, Hukum, Cintaku Jauh di Pulau, Persetujuan Dengan Bung Karno, Diponegoro, Yang Terampas dan yang Putus, dan Nisan. “Seting saya buat kursi di atas kuburan, karena sampai mati pun, kekuasaan tetap ada dan merajalela. Meskipun sudah kami tebas hingga berdarah-darah,” kata Basa Basuki.


Menurut, Shintya, pembicara dari Balai Bahasa Jawa Tengah, bahwa Chairil Anwar adalah salah satu penyair hebat, yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Meskipun hanya lulusan pendidikan setingkat SMP, tetapi bisa berbicara beberapa bahasa asing. Karya-karyanya sangat bagus, karena Chairil senang membaca. “Sayang, ia mati muda,” kata Shintya.

Pembicara lain, Sawali Tuhustya menjelaskan, secara tematik, muatan isi dalam puisi Basa Basuki dan Chairil Anwar sangat berbeda konteks jamannya. Puisi Basa Basuki lebih menukik pada konteks kekinian, sedangkan tema besar dalam teks Chairil Anwar sarat dengan kobaran semangat menjelang dan pasca kemerdekaan negeri ini. Perbedaan konteks jaman ini, tampaknya juga berefek pada soal stilistika, termasuk penggunaan diksi.
“Dari sisi muatan isi, 10 puisi Basa Basuki lebih banyak mengangkat berbagai fenomena sosial dan politik yang kontekstual dengan dinamika sosial politik kekinian,” ujar Sawali.


Pertunjukan baca puisi Basa Basuk juga dimeriahkan oleh penampilan penyair asal Kendal, di antaranya Sofyan, Any Faiqoh, Sriyatin, Arifian Sugito, dan siswa-siswi SMAN 1 Kaliwungu.


Kepala SMAN 1 Kaliwungu, Siti  Nurwiqowati berharap, siswa yang menonton, bisa mengikuti jejak penyair untuk berkarya. “Buat anak-anak, banyaklah membaca,” katanya.