Sanggar Kejeling bersama SNKI Kendal Gelar Penjamasan Benda Pusaka

Sanggar Kejeling bersama SNKI Kendal Gelar Penjamasan Benda Pusaka

0
84

Swarakendal.com : Sanggar Kejeling bersama SNKI Kendal menggelar prosesi ritual penjamasan benda pusaka. Penjamasan diikuti puluhan pemilik benda pusaka, Minggu (7/8/2022) malam. Tradisi ritual penjamasan ini rutin dilakukan setiap tanggal 10 Syuro atau Muharram.

Kegiatan penjamasan benda pusaka digelar oleh Sanggar Kejeling bersama Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Kendal Korwil Jawa Tengah. Para pemilik benda pusaka yang hadir membawa benda pusaka dan sebagian besar mengenakan pakaian adat Jawa.

Ada puluhan benda pusaka yang sebagian besar berupa keris ditata untuk dilakukan penjamasan. Juga disediakan sesaji atau hidangan makanan, seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, jajanan pasar, pisang, kelapa dan lainnya yang akan dimakan bersama setelah selesai penjamasan. 

Ketua SNKI Kendal Korwil Jawa Tengah, Rinto Murdomo, budayawan Mpu Keris menjelaskan, bahwa tradisi ritual penjamasan benda pusaka untuk masyarakat umum dilakukan tiap tanggal 10 Syuro, sedangkan tiap tanggal 1 Syuro dilakukan oleh keluarga keraton. “Penjelasan tiap tanggal 10 Syuro ini, karena yang tanggal 1 Syuro atau 1 Muharram itu untuk keluarga keraton, sedangkan untuk tanggal 10 Syuro dan seterusnya itu penjamasan benda pusaka untuk masyarakat, ” jelasnya. 

Rinto menjelaskan, ritual penjamasan ini merupakan doa sebelum melakukan penjamasan atau pembersihan benda pusaka supaya bersih dari korosi atau karat. Bahan yang digunakan untuk penjamasan adalah air kelapa dan minyak wangi. Tujuan ritual penjamasan, juga untuk membersihkan raga dan hati pemilik benda pusaka, agar hatinya lebih bersih, lebih baik dan lebih menyenangkan dari tahun kemarin. “Penjamasan ini artinya membersihkan pusaka. Pusaka ini pakaian, dan pakaian ini bisa raga dan rasa, jadi membersihkan raga dan membersihkan hati yang mempunyai pusaka, supaya hatinya lebih bersih, lebih baik dari tahun kemarin, ” tandasnya. 

Pupung Dwi Hermawan, ketua panitia dari Sanggar Kejeling mengatakan, kegiatan ritual penjamasan sudah rutin dilakukan tiap tahun. Namun penjamasan digelar untuk umum, mulai tahun 2019 lalu. Tujuannya untuk melestarikan budaya warisan leluhur agar tetap lestari dan berkembang. “Sanggar Kejeling melakukan penjamasan ini sejak dulu, tetapi untuk masyarakat umum ini sejak tiga tahun lalu. Awalnya hanya sekitar 30 orang, tetapi sekarang bertambah sampai 70 orang lebih. 

Prosesi penjamasan diiringi tembang dan geguritan dengan musik tradisional. Usai penjamasan dilakukan pemotongan tumpeng dan makan bersama.