SMPN 4 Cepiring jadi Pilot Projek Sekolah Anti Bullying

SMPN 4 Cepiring jadi Pilot Projek Sekolah Anti Bullying

0
35

Swarakendal.com : SMP Negeri 4 Cepiring menjadi salah satu sekolah penggerak anti perundungan di Kabupaten Kendal. Program ini digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupa program Anti Perundungan  Roots.

Para siswa  ditugaskan  menjadi agen perubahan pencegahan perundungan. Dengan dibentuknya  agen pencegahan ini, harapannya  di sekolah itu tidak ada lagi  perundungan  atau bulian. Dalam program roots ini, para siswa juga dididik untuk  berani melaporkan jika  terjadi perundungan di sekolah.

Pihak sekolah juga harus mensosialisasikan atau menginformasikan kepada semua siswa, jika mengalami perundungan, harus berani melaporkan dan pihak sekolah akan melindungi anak yang melapor agar tidak mengalami perundungan lagi.

Bintek dibuka oleh Kepala SMPN 4 Cepiring Sutrisno, sekaligus  penyematan  pin  “Stop Perundungan” pada  siswa yang  menjadi agen  perubahan di aula sekolah. Pembentukan agen perundungan ini digawangi para siswa  yang paling pandai, paling pemberani, paling nakal, paling disegani, paling pandai dalam medsos, pokoknya  yang  selalu di depan supaya lebih mudah dalam sosialisasi.

Dalam  bimtek  Program Roots Anti Perundungan, siswa juga  dilatih  untuk  tegas dan  cerdas. Salah satunya dalam permainan  game  tongkat karakter, yaitu bagi siswa yang  memegang tongkat harus  mempunyai kecerdasan dalam berfikir dan bertindak.

Selain itu juga ada  simulasi dalam bentuk  drama yang diperankan oleh para siswa. Drama menggambarkan, salah seorang siswa baru, ketika memperkenalkan diri langsung dibuli oleh  siswa yang lain,  bahkan  dibentak dan didorong hingga  jatuh, karena  ia  sebagai siswa baru dengan penampilan yang berbeda.

Salah satu siswa SMPN 4 Cepiring, Ani Maftuhah berharap kepada teman-teman yang telah ditunjuk sebagai agen perubahan harus bisa mencegah tindakan bullying. Pasalnya perbuatan bullying bisa menyebabkan mental anak menjadi turun, sehingga harus berani melaporkan kepada pihak sekolah jika melihat  perbuatan bullying di sekolah.  “Perbuatan bullying ini sangat tidak baik, maka sebagai agen perubahan harus menyampaikan kepada teman-teman agar tidak terjadi perbuatan bullying,” katanya, Senin (11/10/2021).

Sofwan, guru  SMP Negeri 4 Cepiring yang menjadi Fasilitator  Program Roots mengatakan,  bahwa  program ini merupakan kerjasama Unicef dengan  Pusat Pengembangan Karakter (Puspeka) Kemendikbud. Fasilitator Roots telah mengikuti pelatihan yang materinya dirancang pemerintah dengan dukungan Unicef. Pertama, anak-anak diminta menilai situasi di sekolah menggunakan uniform-report,  yakni platform digital berbasis media sosial untuk mengadakan jajak pendapat secara anonim. Hasilnya, 70 persen  para  siswa pernah mengalami perundungan. “Jenis perundungan yang dialami para siswa itu beragam, mulai dari anak dipukul, dicubit, diejek, digosipkan dan dirundung di dunia maya,” katanya.

Kepala SMP Negeri 4 Cepiring, Sutrisno mengatakan, bullying atau perundungan  terjadi tidak hanya siswa,  bahkan  antar  guru juga  bisa terjadi, sehingga dengan adanya  Program Roots ini akan  memperkecil  persentase  korban perundungan. Sebab dosa besar  pada dunia pendidikan adalah   kekerasan seksual dalam sekolah dan perundungan.

“Sebagai pilot projek, maka tentu akan menyebarkan program ini ke sekolah lain, sebab di Kabupaten Kendal   baru ada  6 sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah penggerak, sehingga  nantinya  akan   di  kembangkan di sekolah lain,” katanya.