Tukang Bangunan Harus Punya Sertifikat

0
1183

Tenaga tukang bangunan harus bersertifikat, jika tidak ingin kalah bersaing dengan tenaga tukang dari negara asing. Hal ini dikatakan anggota Komisi V DPR RI Alamudin Dimyati saat kunjungan kerja di Kendal bersama 2 anggota komisi V lainnya, yaitu Damayanti Wisnu Putranti dan Fat-han. Menurut Alam, dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asia 2016, dimungkinkan banyak tenaga tukang bangunan yang bekerja ke Indonesia, termasuk di Kendal.  “Supaya tidak kalah bersaing, maka para tukang bangunan juga harus memiliki sertifikat,”katanya.

Kunjungan kerja Komisi V di Kendal ini, selain memantau beberapa proyek perbaikan jalan, juga memantau kegiatan Pembekalan dan Fasilitasi Uji Kompetensi Tukang Bangunan Umum menggunakan Mobil Training Unit (MTU) di Kaliwungu. Kegiatan yang dilakukan selama 2 hari ini dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat PUPR). Menurut Direktur Bina Kompetensi dan produktivitas  Konstruksi Kementerian PUPR, Ir. Masrianto, di tahun 2015 ini ditargetkan tukang bangunan yang sudah bersertifikat ada 1 juta orang, terdiri dari 150 ribu tenaga ahli dan 850 tenaga tukang. Saat ini tukang bangunan yang sudah bersertifikat baru 400 ribu orang. Untuk itu kegiatan Uji Kompetensi Tukang Bangunan terus dilakukan.  “Makanya kami melakukan percepatan dengan memberikan bekal pelatihan, kemudian diuji kompetensinya supaya dapat sertifikat,”kata Masrianto.

Menurut Masrianto, fungsi sertifikat tukang sangat penting. Bukan hanya untuk meningkatkan kompetensinya, tapi sebagai persiapan menghadapi MAE 2016 dan WTO 2020, supaya tenaga kerja punya daya saing, jika ada tenaga-tenaga asing. Mulai sekarang tukang harus dipersiapkan supaya betul-betul kompeten. Tukang yang  memiliki bekal kemampuan juga bisa menjadi bekal untuk bekerja ke luar negeri,”tegasnya.

Sementara itu Kepala Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah II Surabaya, Hambali mengatakan, uji kompetensi tukang bangunan juga dilakukan oleh dinas terkait, seperti Dinas Ciptaru. Pembekalan dan Uji Kompetensi di Kendal ini diikuti 95 orang, selama 3 hari, tanggal 12-14 November 2015. Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi yang berwenang mengeluarkan sertifikat akan menguji tukang yang sudah kompeten akan mendapatkan sertifikat. Sebelum diuji, akan diberi pelatihan, kemudian diuji kemampuannya, “Jika memang layak, maka dapat sertifikat,”katanya.

Hambali mengatakan, adanya regulasi tukang harus bersertifikat, maka semua tukang, termasuk para tukang di kampung-kampung diharapkan memiliki sertifikat. LPJK memberi syarat untuk mendapatkan sertifikat, minimal lulusan SD, namun jika tidak taamat sampai SD, maka yang penting bisa membaca dan menulis. “Kami akan pro aktif dengan tukang kampung sebagai upaya untuk percepatan pemberian sertifikasi bagi tenaga kerja jasa konstruksi. Makanya bisa antar jemput dengan mobil pelatihan,’harapnya. (Ab)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan tambahkan komentar Anda!
Ketik nama anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.