Warung Sate Pak Doel Cepiring Didesain seperti Museum

Warung Sate Pak Doel Cepiring seperti museum

0
866

Ada pemandangan lain ketika masuk ke warung sate Pak Doel Tjepiring yang berada di sebelah selatan lampu merah Sri Agung Cepiring. Warung sate yang sudah ada sejak zaman Belanda itu di ruangannya diisi benda-benda kuno dan foto-foto Cepiring masa lampau, sehingga mirip dengan museum kecil. Benda-benda kuno tersebut dipajang sebagai hiasan ruangan untuk menarik pengunjung.

Ada sepeda kuno, beberapa botol kuno zaman Belanda yang terbuat dari tanah lait, lampu, radio dan TV kuno serta benda-benda kuno lainnya. Di sekeliling tembok dalam ruangan juga terpajang foto Cepiring masa lampau, seperti bangunan rumah dan Pabrik Gula Cepiring yang dipotret masa itu. Juga ada beberapa foto orang Belanda yang dulu pernah tinggal di Cepiring.
Pemilik warung makan Pak Doel yang sekarang, Aryo Widianto merupakan generasi ketiga atau cucu pendirinya.  Menurut Aryo, kakeknya yang bernama Abdul Hadi mulai membuka warung pada tahun 1946. Dulu menjual satenya menggunakan pikulan keliling kampung dan yang di rumah hanya menggunakan meja.  “Setelah Pak Doel meninggal, kemudian diteruskan ibu saya, dan setelah ibu saya meninggal pada hun 2016, selanjutnya Saya yang meneruskan, karena saudara-saudara tidak ada yang mau,” katanya.
Aryo menuturkan, menurut cerita, pada masa penjajahan Belanda, Pak Doel terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnyal di Jogakarta karena dikejar-kejar Belanda. Sebelum menetap di Cepiring, Pak Doel sempat tinggal sebentar di Mangkang. “Pak Doel dicari-cari Belanda, karena sebagai Lebe atau tokoh agama yang dianggap membahayakan penjajah, sehingga harus pergi meninggalkan Jogja bersama saudaranya yang sekarang tinggal di Mangkang,”tuturnya.
Sebagai penerus, Aryo rupanya ingin membuat suasana lain di warungnya, yaitu dengan mendesain warungnya dengan benda-benda kuno dan foto-foto yang ada hubungannya dengan sejarah Cepiring. “Saya ingin menjadikan warung sate ini seperti museum Cepiring,” katanya.
Bukan hanya desain ruangan yang berubah semakin menarik, namun sajian menunya juga mengikuti kondisi zaman, yaitu mulai menggunakan hot plate. “Menggunakan hot plate ini belum lama, baru sekitar satu bulanan,”katanya.